Wonderland ….

Lampu berkedip, kita berbelok ke arah yang salah dan jatuh ke dalam lubang kelinci.
            Kamu memegangku erat-erat. Seakan aku akan melepaskanmu. Belum ada yang seperti itu sebelumnya, aku lepas kendali. Apakah orang-orang tidak mengingatkan kita untuk tidak terburu-buru? Apakah kamu tidak mengerjapkan mata bundarmu di balik kacamata itu padaku? Tidakkah kamu mendengar pikiran anehku? Tidakkah semuanya tampak baru dan menarik, bagimu?
           
Aku merasakan tanganmu melingkar di pinggangku. Aku harusnya tidur dengan satu mata terbuka di malam hari. Karena kita telah menemukan negeri ajaib. Kamu dan aku masuk ke dalamnya. Dan, kita berpura-pura bahwa semua itu akan bertahan selamanya. Hidup tidak pernah lebih baik, tapi tidak pernah lebih buruk. Kita berdua tersesat di dalamnya.
            Kita memutuskan untuk pergi bersama. Kita terlalu mencintai, sehingga sulit untuk berpikir lurus. Sendirian atau seperti itulah kita melihatnya. Orang-orang melihat kita. Berbisik dan membicarakan kita. Dan, berteriak kepada kita. Karena perbedaan agama kita. Apakah kamu tidak berusaha untuk menenangkanku dengan senyum khas kucing Cheshire?
            Aku merasakan lenganmu melingkar di sekitarku. Semuanya tampak menyenangkan dan bermain sepuasnya hingga salah satu dari kita kehilangan akal pikiran. Tapi, sayang, kita berada di sebuah negeri ajaib lagi. Kita masuk ke dalamnya, dan tersesat, kemudian mengira bahwa semua ini akan berakhir selamanya.
            Aku berusaha meraihmu. Memanggil namamu, tetapi kamu pergi. Aku tahu, harusnya aku pergi pulang bersamamu, tapi kamu mencari dunia untuk sesuatu yang lain dan membuatmu merasakan seperti apa yang pernah kita miliki.
            Dan, pada akhirnya di negeri ajaib itu, kita berdua pergi dan menjadi gila.
            Kulihat sekarang. Semuanya tampak sederhana. Kita berdua duduk dan berbaring di sofamu. Aku ingat itu. Itu adalah momen terbaik dalam hidupku.
            Kita mengambil foto berdua. Tersenyum lebar. Kemudian foto itu menjadi kenangan. Seluruh dunia berubah menjadi hitam dan putih. Tapi, kita berdua selalu berganti-ganti warna. Dan aku ingat pernah berpikir, “Apakah kita sudah keluar dari negeri ajaib? Apakah kita sudah mulai terlupakan?”
            Kembali mengingat sekarang. September yang lalu, kita membangun hubungan ini kemudian hancur berantakan. Dan, kembali jatuh bersama-sama.
            Gelangmu menggantung di tanganku. Cincin kawatmu melingkar di jari tengahku. Malam itu kita tidak bisa melupakannya, ketika kita memutuskan untuk memindahkan perabotan sehingga kita bisa menari. Berpelukan. Berciuman. Sayang, kita seperti sudah meraih kesempatan. Dua burung merpati melayang ke atas, terbang dan terbang tinggi.
            Ingatkah kamu saat menginjak rem terlalu cepat? Aku memeluk pinggangmu. Berpegangan erat. Ingatkah kamu saat sedang menggiring bola aku meneriakkan namamu? Aku selalu mendukung dan menunggumu.
            Sayang, sekarang kamu mulai menangis. Aku juga. Ketika malam menjelang, bintang bercahaya terang di atas kita, aku memandangimu. Aku ingat bagaimana kita menahan diri dan menjauh malam itu, dan aku berkata, “Aku siap melepaskanmu.”
            Ketika malam semakin gelap, kamu memandangiku. Ya, kamu memandangiku cukup lama. Menghapus air mataku. Aku ingat. Saat kita bersama. Kenangan kita. Negeri ajaib kita, Sayang.

Komentar

Postingan Populer