Be My May
Mataku bergerak cepat seiring bergantinya lembar kalendar.
Aku
menatap setiap tanggal, bulan dan hari yang tertera di kalendar ini. Setiap bulan,
setiap hari aku harus melakukan kegiatan ini. Memeriksa jadwal setiap hari dan
membuat rencana baik di hari kerja atau di hari pekan. Semua demi mewujudkan
keingiannku. Sebuah cinta.
Sudah
beberapa tahun lamanya aku tidak menjalin hubungan serius. Bukan karena tidak
tertarik atau karena kesibukan, tetapi karena aku belum menemukan seorang pria
yang kubutuhkan. Setiap bulan aku harus mendapatkan minimal satu pria untuk
menjadi teman kencanku dalam waktu sebulan. Kemudian, bulan berikutnya
melakukan hal yang sama. Aku bukan tipe player.
Bukan. Hanya saja, dengan begitu aku akan menemukan apa yang kubutuhkan dan
kuinginkan secara bersamaan. Sayangnya, sudah lebih dari tiga tahun ini aku
belum menemukannya.
Aku
berjalan menuju sebuah kafe. Menggunakan sepatu hak tinggi yang tidak kusukai. Berharap
bahwa dia akan datang terlambat, tapi dia sudah duduk di sudut meja lebih awal.
Dia berdiri dan menungguku. Aku berjalan menghampirinya. Dia menarik kursi dan
membantuku duduk. Rasanya sangat manis sekali, apa yang diperbuatnya untukku
itu.
Kami
berbicara santai. Dia melemparkan sebuah canda, dan aku tertawa seperti anak
kecil. Rasanya aneh, karena aku belum pernah melakukan hal ini. Kencan awal
bulan ini, terasa berbeda dari sebelumnya. Aku memandang dia lebih lama dari
pria lainnya. Menikmati kencan pertama lebih lama dari sebelumnya. Tidak berpikir,
akan butuh waktu berapa lama untuk menghabiskan waktu satu bulan dengannya.
Hari
Minggu. Di kedai kopi. Aku memulai kembali.
Kami
memainkan sebuah lagu. Dia selalu berkata, dia tidak paham pada lagu ini. Tetapi
aku paham. Mata biru lautnya berbicara padaku. Aku terpana. Mencoba menahan
napas dalam-dalam, tapi gagal. Tidak bisa
berpikir jernih, aku kembali melemparkan sebuah tawa seperti anak kecil
pada lelucon hambarnya. Tapi rasanya sangat manis sekali.
Kami
saling menceritakan kisah-kisah, tetapi dia tidak menyadari tiba-tiba aku
menjadi sedikit pemalu, tetapi aku tahu itu. Kami juga menelusuri jalan raya
dengan mobilnya. Dia mulai berbicara tentang film. Menceritakan bahwa dia
senang menonton bersama keluarganya di akhir pekan. Sedangkan aku, punya banyak
waktu untuk menonton film sendirian kapanpun aku mau. Untuk kali pertama, apa
yang menjadi masa lalu adalah masa lalu.
Kami
berpandangan dalam. Dia melemparkan pandangan menawan. Membuatku kagum. Bungkam.
Secara bersamaan. Aku terpana dan dia terlihat menikmatinya. Untuk kali
pertama, aku berharap apa yang kami lakukan ini tidak akan berakhir pada akhir
bulan.
Aku ingin kembali ke Hari Minggu
itu. Di kedai kopi kesukaanku. Duduk berhadapan dengannya dan mengobrol santai.
Bertatapan lebih lama dari pertemuan pertama. Memutar kembali seakan kami berada
di dalam sebuah film. Seakan waktu tidak pernah berhenti untuk kami.
Aku ingin dia menjadi Pria Bulan
Mei-ku. Selamanya.



Komentar
Posting Komentar