Pulang


Jantungku  berdetak lebih lambat.
            Malam ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Langit di atas kepalaku tampak menggelap. Mimpi malam ini terasa lebih susah dari hari-hari yang lalu. Bermimpi indah tampaknya mustahil bagiku. Kemudian, aku tersadar, sekarang dia telah pergi.
            Musim sudah berganti. Hujan. Semua orang datang dan pergi. Aku sudah berkeliling hingga ke negara lain. Tapi rasanya, aku ingin pulang. Dan, aku tahu. Aku benci setiap teringat akan kepergiannya. Benci karena aku akan mengingatnya sebagai kesalahan terbesar. Melepaskanmu, begitu saja.
           
Hari demi hari berlalu. Aku sudah lelah dengan segala rutinitas. Dengan orang-orang. Pergaulan. Padahal aku dikelilingi oleh berjuta-juta orang. Sayangnya, aku masih merasa sendirian. Aku ingin pergi ke tempatnya. Aku merindukannya. Aku tahu, kalau dia tahu itu.
            Aku ingin menggenggam tangannya. Memeluk punggungnya. Di pantai. Dengan alunan musik merdu. Di bawah langit cerah. Secangkir kopi hangat khas kesukaan kami. Di mana kami berada seperti biasanya. Aku dan dia. Aku ingin melakukan perjalanan berkilo meter jauhnya, hanya untuk melihat mata biru lautnya yang indah itu. Karena, rumahku ada di matanya.
Aku menulis surat padanya. Dan, aku menjaga surat yang pernah kutulis untuknya. Menuliskan, “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”. Aku sudah mengirimnya beberapa kali, ternyata semua itu tidak cukup baginya. Mungkin, kata-kataku terlalu datar dan biasa. Dia layak mendapatkan lebih dari itu.
Jantungku berdetak lebih cepat. Ada air mata di wajahku, yang biasanya berhiaskan tawa. Sekarang dia sudah pergi. Menjauh dan menghilang dariku. Kemudian, dia berbicara sedikit lebih lembut. Membuat segalanya menjadi lebih lama. Aku benci setiap kali mengingat bahwa dia telah pergi.
Biarkan aku pulang.
Aku hanya berada lebih jauh dari tempatnya, saat ini.
Aku ingin pulang ke rumah.
Aku seperti sedang menjalani kehidupan orang lain. Seperti aku sudah melangkah jauh ke luar. Ketika semuanya terasa begitu tepat pada waktunya. Kemudian, aku sadar. Aku tahu kenapa dia tidak bisa pergi bersamaku. Karena ini bukan mimpinya. Walau aku tahu, dia akan selalu percaya padaku.
Kalau saja aku bisa membuat akhir yang berbeda. Jalan ini tidak akan menjadi bagian dari cerita kami. Aku akan mencari jalan, di mana kami tidak akan pernah berpisah. Memulai dari awal lagi. Aku merindukannya.
Musim hujan kembali datang. Aku ingin pulang. Bahkan aku akan berlari untuknya. Karena aku harus pulang. Dan, aku akan pulang malam ini. Aku akan datang ke rumah. Rumah di mana menjadi tempat kami seperti biasanya. 

Komentar

Postingan Populer