Pria Terkejam
Serta
seperti belati dan senjata yang kamu gunakan untuk melukaiku. Kamu telah
menjegalku lagi. Membuatku merasa tidak berguna. Kamu, dengan suaramu yang
seperti paku menusukku. Menyorakiku saat aku terluka. Kamu, memilih lawan yang
lemah. Kamu bisa menjatuhkanku, hanya dengan satu pukulan saja.
Bulan
Mei lalu, kesalahan ini dimulai. Kamu melihatku sendirian. Kamu menemukanku. Di
jalan itu. Tapi, kamu tidak peduli. Dan, karena itu aku menyukaimu. Saat aku
mulai jatuh cinta, kamu mundur perlahan. Meninggalkanku.
Katakanlah,
sudah enam bulan lamanya. Dan, kamu terlalu takut untuk menyatakan padaku apa
yang kamu inginkan. Dan, begitulah caranya. Begitulah caramu mendapatkan hati seorang
wanita.
Tapi
kamu tidak tahu, apa yang tidak kamu ketahui. Suatu hari nanti aku akan tinggal
di kota besar. Dan, yang bisa kamu lakukan hanyalah menjadi pria yang kejam.
Suatu hari nanti, aku akan cukup hebat hingga kamu tidak bisa memukulku. Dan,
yang bisa kamu lakukan hanyalah tetap menjadi pria yang kejam.
Lalu,
kamu akan bilang, “Aku menginginkanmu dalam suka dan duka. Aku akan menunggu
selama-lamanya. Telah kupatahkan hatimu, akan aku rajut kembali. Aku akan
menunggumu selama-lamanya.”. Itulah yang akan kamu katakan. Begitulah caramu
mendapatkan hati seorang wanita.
Kenapa
kamu harus begitu kejam?
Akan
aku ingatkan kembali, bagaimana kita dulu berciuman. Saat itu kita sudah hilang
akal. Kemudian, kamu meninggalkanku sendirian. Tanpa memberitahu alasanmu. Dan,
begitulah caramu kehilangan wanita itu. Ya, aku.
Kamu,
dengan kemunafikanmu, dustamu, yang merajalela serta hinaan-hinaanmu. Kamu
telah membuka aibku di hadapan teman-temanmu. Seakan aku tidak tahu saja.
Betapa malunya aku. Membuat gossip hingga ke orang-orang yang tidak kukenal.
Hingga kamu mempermalukan aku.
Aku
berjalan menunduk. Mencoba mengabaikanmu. Karena aku tidak pernah membuatmu
terkesan. Padahal, aku hanya ingin merasa nyaman kembali. Sekarang, aku terbaring
di tanah keras yang kering.
Pasti
kamu tertekan. Seseorang telah membuatmu menjadi begitu dingin. Namun,
lingkaran itu sudah berakhir. Karena kamu tidak bisa menuntunku melalui jalan
itu.
Kamu
tahu, bahwa aku tidak ingin kamu pergi. Ingatkan aku bagaimana kita dulu.
Foto-foto ciuman di bibir yang berbingkai. Tempat yang kita datangi bersama.
Kenangan di setiap cangkir kopi kita. Karena aku menginginkanmu, dalam suka
maupun duka. Aku akan menunggu selamanya. Katakan saja, kalau kau
menginginkanku juga.
Sayangnya,
kamu terlalu kejam.
Beberapa tahun berlalu, aku bisa
melihatmu di kedai kopi seberang. Membicarakan pertandingan bola yang tidak
kamu pahami. Dengan pendapat tidak mau kalah yang sama. Namun, tidak ada yang mempercayaimu.
Lelah dan mengeluhkan kepahitan yang sama seperti dulu. Mengomel tentang aku
yang tidak bisa memasak. Mengomentari ceritaku dengan alur melanturmu itu.
Namun, kamu hanyalah pria yang
kejam.
Pembohong yang ulung.
Menyedihkan.
Sendirian dalam hidup.
Dan, jahat.
Kamu tidak pernah bilang maaf. Kamu
tidak pernah melihatku menangis. Kamu berpura-pura tidak tahu, bahwa semuanya
adalah ulahmu. Aku tenggelam. Sendirian.
Kudengar kabar burung, kalau kamu
sudah melanjutkan hidup. Aku hanyalah wanita yang berpapasan bagimu. Kini aku
sadar, bahwa kamu sudah lama pergi saat bersamaku. Aku sadar leluconmu dan
teman-temanmu adalah tentangku. Ketakutan paling menyedihkan merasukiku, bahwa
kamu tidak pernah mencintaimu. Atau siapa saja.
Karena kamu terlalu kejam.



Komentar
Posting Komentar