Mimpi Terliarmu


Pria sepertimu selalu menginginkan kembali cinta yang telah diberikan.
            Wanita sepertiku, selalu percaya padamu saat kamu bilang telah berubah. Semakin aku pikirkan, semakin sedikit yang aku tahu tentang dirimu. Yang aku tahu hanya, kamu telah membuatku tersesat sendirian.
            Dulu, kamu bilang, “Ayo kita pergi dari kota ini!”
            Meninggalkan kota. Menjauh dari keramaian. Aku ingat, bahwa saat itu adalah saat terbaik. Kita dan dunia kita. Tapi, sekarang, aku selalu berpikir, langit tidak bisa membantu kita saat ini. Tidak ada yang abadi. Karena ini akan mengacaukanku.
           
Kamu begitu tinggi. Tampan sekali. Dengan, mata biru laut itu. Memabukkanku. Kamu begitu nakal, tapi kenakalanmu sangat manis sekali. Akhir kisah kita bisa kulihat saat kita memulainya. Tapi, aku tidak pernah takut untuk memulainya. Satu syarat dariku, katakanlah kamu akan mengingatku.
            Dulu yang harus kamu lakukan hanyalah tinggal bersamaku. Kamu telah menggenggamku dengan telapak tanganmu. Lalu, kenapa kamu pergi dan mengunciku saat telah kubiarkan kamu masuk?
            Sekarang, kamu bilang kamu menginginkan semua itu lagi.
            Tapi kini sudah terlambat. Ya, semua bisa saja menjadi mudah. Kalau saja dulu kamu mau tinggal di sisiku.
            Ingatlah aku sekarang dalam mimpi terliarmu. Melihatku berdiri mengenakan gaun indah, menatap matahari tenggelam. Bibir merah dan pipi merona. Katakan kamu akan bertemu denganku lagi, meski hanya dalam sebuah mimpi.
            Kini beginilah dirimu. Menghubungiku. Datang padaku. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa. Telah kupungut kepingan hati yang telah kau buat. Ya, pria sepertimu selalu menginginkan kembali cinta yang telah diabaikan. Tapi, wanita sepertiku telah pergi selamanya. Saat kamu bilang selamat tinggal. Dan, aku harus mengabaikanmu walau dengan berat hati. Walau rasanya seperti terguncang.
            Kubilang, tidak perlu ada yang tahu apa yang telah kita lakukan. Tanganmu di tanganku. Kenanganmu menetap di rumahku. Dan, suaramu terdengar akrab sekali. Tapi, tidak ada yang abadi. Walau semua ini semakin menyenangkan. Di saat kita menikmati ciuman terakhir. Aku berharap kamu bisa mengabulkan permintaan terakhirku. Ingatlah aku dalam mimpi-mimpi terliarmu.
            Biar kuingatkan inilah yang dulu kamu inginkan. Kamu mengakhirinya. Dulu kamulah yang aku inginkan. Tapi tidak seperti ini. Sama sekali tidak seperti ini.
            Kamu melihatku setelah semua yang terjadi. Kita bertengkar sepanjang malam. Kemudian, hancur. Kelak, saat kau meninggalkanku lagi, aku berani bertaruh, kenangan ini akan menghantuimu. Mengikutimu.
            Meski hanya di mimpi terliarmu.

Komentar

Postingan Populer