Aku Rindu




Maret yang kelabu.
            Bulan yang seharusnya tidak bercuaca panas, tidak pula bercuaca hujan. Namun, aku masih menikmati keduanya di bulan ini.
            Siang yang dingin, bertaburkan hujaan deras dan angin kencang, segelas cappucinno panas, aku memandangi jendela dari ruang kerjaku. Pikiranku melayang jauh. Kepada seseorang yang sedang berkelana di suatu negera, yaitu di Bangkok.
           
Aku rindu. Pada sosok yang hangat, ramah dan menyenangkan itu. Aku rindu, pada senyum yang manis, menawan dan menghipnotisku itu. Aku rindu padanya.
            Dia seseorang yang pernah kujumpai. Seseorang yang pernah singgah di  hatikku. Memenuhi benak dan membuatku mabuk kepayang karena cinta. Dia seorang pria bermata biru sapphire yang tampan sekali. Aku jatuh dan terjerumus ke dalamnya. Dia bertubuh besar dan gumpal yang paling menggemaskan, yang sosoknya akan mampu melindungi dan menjagaku. Dia seorang pria yang menyenangkan, yang dapat menghiasi hariku dengan celoteh dan ucapan manisnya.
            Sudah tiga tahun lebih kami tidak berkabar. Walaupun kami berkabar, dia tidak akan meresponku. Ruang di hatiku rasanya sumpek dan gelisah. Rindu yang tidak bisa disampaikan ini, membuatku jengah dan gundah. Rindu yang tidak dianggap itu lebih menyakitkan daripada arti penolakan itu sendiri. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memandangi fotonya, mengingat kisah yang pernah kita rangkai dan menenggelamkan diri pada kenangan demi kenangan.
            Aku rindu sentuhannya. Di kala dingin, sentuhannya adalah kehangatan yang menentramkan. Aku rindu aroma tubuhnya, di setiap harinya aroma tubuhnya adalah udara bagiku. Aku rindu suaranya, di setiap detiknya ucapan yang keluar darinya adalah lirik lagu cinta bagi diriku sendiri.
            Aku merindu pada dia yang jauh di sana. Pada dia yang tidak menganggapku ada lagi. Pada dirinya yang sudah melupakanku. Aku merindu kepada seseorang yang mungkin sudah merangkai kisah baru di kehidupannya.
            Gelas kopiku nyaris jatuh dan tumpah. Air mataku membasahi pipi dan aku tidak menyadarinya. Pikiranku sudah melayang jauh dan aku membiarkan diriku terlena karenanya. Jika sudah memikirkan dia, dunia nyataku tidak ada artinya. Karena dialah dunia yang ingin aku pijak dan singgahi.
            Matahari sudah tenggelam. Langit sudah menggelap dan jam di dinding sudah melewati batas waktu kerjaku. Sudah tidak ada daya lagi untuk melanjutkan pekerjaan, tetapi, duduk melamun di depan computer dan hanya memandangi fotonya tidak melelahkan.
            Sayangnya, aku hanya bisa membuat diriku tampak lebih bermuram durja karena rindu setiap harinya. Rasanya aku sudah masuk pada titik terendah.
            Hari berganti. Jam bergulir. Musim berubah. Tetapi, rindu ini menetap dan abadi di dalamnya. Tidak termakan waktu, ruang dan musim. Selamanya akan memenuhi diriku dan mempengaruhiku. Aku rindu.
            Kutuliskan sebuah surat padanya. Hendak kukirim ke surat elektroniknya, sayangnya jemariku tidak mampu. Hanya bisa kusimpan saja dan kemudian mengendap selamanya tanpa pernah kukirimkan. Kubawa rindu ini kembali pulang tanpa pernah terlampiaskan.
            Aku rindu …….

Komentar

Postingan Populer