Perjalanan
Lukisan Malam
Aku
belum pernah menyukai suasana malam. Bahkan nyaris tidak suka. Dingin. Gelap.
Sendirian. Baik saat sedang di rumah, atau sedang dalam perjalanan, aku tidak
suka dengan malam. Namun, malam ini beda. Beda sekali.
Tahun 2005, di perjalanan pulang
kampung dari daerah Jawa Timur tempat Mamaku lahir dan besar. Saat bulan
suci Ramadhan. Perjalanan berkesan ini menyisakan siraman rohani terindah dan menyentuh
kalbu sepanjang hidupku.
Aku tidak pernah meminta apa-apa
pada Papa selain kebutuhanku. Apa yang aku inginkan bisa kubeli sendiri,
dengan menabung. Jadi, aku terbiasa membeli sendiri. Namun kali ini beda. Aku
inginkan sebuah CD lagu rohani yang syahdu, menyentuh relungku.
Aku berkata, “Mau dengar lagu dari
Raihan.” Kala itu Raihan – grup nasyid asal Malaysia – baru mengeluarkan album.
Lagu-lagunya kudengar di radio dan begitu kusukai.
“Dengar lagunya di mana?” Papa
bertanya. Aku terkejut, tidak biasanya beliau
menanggapi gumamanku itu.
Kami sedang di dalam mobil. Bersiap menyantap makan malam. Di sekitar wilayah Simpang Lima, Semarang. Aku duduk di belakang sopir, sedangkan Papaku duduk di samping sopir. Mobil terisi penuh dengan keluarga lainnya.
Aku diam selama satu menit. “Di
radio,” jawabku kemudian.
“Radio di Jakarta?”
“Iya.”
Papa diam cukup lama. Mobil masih
berlalu. Suasana di dalam mobil juga hening. Dingin karena sentuhan AC. Malam
gelap di Semarang yang sejuk dan ramai. Membungkamkan mulut kami. Sambil
menahan lapar, kurasa.
Dalam heningnya di dalam mobil malam
ini, aku pelan-pelan mendengungkan lirik-lirik dari salah satu lagu di album
Ameen tersebut. Satu lagu tersebut benar-benar membuatku terenyuh. Menyentuh
relung dan meremangkan bulu kudukku.
Engkau tidak tahu bagaimana cara
kerjanya, tetapi engkau tahu bagaimana rasanya. Sepertinya menghujam ke
jantung. Ada rasa takut. Ingin terus bersimpuh sambil menangis. Ya, aku terharu
dan berkaca-kaca. Beruntung tidak ada yang melihatnya.
Mobil berhenti. Di pinggir jalan
yang tidak kuketahui. Kukira kami sudah tiba di suatu rumah makan, ternyata
tidak. Kualihkan pandanganku, kami berhenti di suatu toko.
“Nama albumnya apa?” tanya Papa
padaku. Aku mengerjapkan mataku dengan gerakan kaku. Terheran-heran.
“Ameen, kalau tidak salah,” jawabku
begitu aku teringat judul albumnya. Lalu papaku turun dari mobil dan bergegas
masuk ke dalam toko musik. Agak lama papaku keluar dari mobil, sepertinya Papa
sedang mencari sesuatu yang lain. Lalu aku kembali melihat ke pemandangan di
luar jendela. Banyak mobil berlalu lalang. Orang-orang yang makan di pinggir
jalan. Lapar kembali menghentakkanku.
Lalu Papa masuk ke dalam mobil.
Dengan dua bungkusan di tangannya. Satu bungkusan gorengan dan satu lagi
bungkusan yang tidak kuketahui. Gorengan langsung dikeluarkan, segara disantap.
Lalu, satu CD bergambarkan wajah-wajah anggota Raihan tersebut diulurkan oleh
Papa padaku. Aku tercengang. Kedua mataku terbuka lebar. Ingin menangis.
Memeluk Papa, saat itu. Tapi aku hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca.
Lalu mobil kembali berjalan. Dalam
hening dan gelap malam di dalam mobil, menyantap beraneka ragam gorengan, mengalun
indah lagu dari grup nasyid Raihan tersebut. Sepanjang perjalanan, lagu terus
diputar. Sesekali, Papa menggantinya dengan lagu dari Opick. Yang musik dan
liriknya lebih menyentuh kalbu dan
meremangkan bulu kuduk.
Aku menikmati malam itu. Perjalanan pulang
ke Jakarta di malam hari itu, sangat syahdu dan menggetarkan hatiku bersama
Papa.


Komentar
Posting Komentar