Moonlight Shading vol 9



Part 9
Seorang Vampir Menggodaku

            Pagi itu kulalui seperti biasa selama sepuluh hari lalu – setelah peristiwa mimpi burukku yang pertama tentang Matthew, aku melakukan rutinitas yang sama. Aku bangun tepat waktu, berberes diri dan berangkat sekolah hingga tiba tepat waktunya. Lalu berkumpul dengan beberapa teman-teman, mengobrol dan mendengarkan cerita mereka.
Dan seperti biasa juga, aku melaluinya dengan terus mengawasi keluarga Lombardi dengan sikap sinisku. Kulihat Matthew dan saudara-saudaranya juga mengawasiku dengan sikap yang jauh lebih tenang dibandingkan aku. Kami sama-sama bertukar pandangan dengan sinis namun anggota keluarga Lombardi bersikap dengan sangat hati-hati saat bertatapan sinis denganku. Jika kami bertemu di lorong sekolah, kami sama-sama menghindar secepat mungkin.
Kami bahkan sama-sama menahan aroma menyengat dan menusuk yang tertangkap oleh indera penciuman kami. Kami selalu menghindar sejauh mungkin untuk menghindari kontak fisik di antara kami. Sering kali kami hanya saling melemparkan pandangan dingin dan serius, bersikap kasar dan dingin.
Kurasa memang sangat sulit untuk bisa beradaptasi dengan makhluk yang tidak seharusnya berada di sini, makhluk yang sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk yang paling dibenci oleh orang-orang sepertiku.
            “Hai.” Sapa lembut Jennifer padaku, dia memelukku hangat. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, dan menerima pelukannya. Jennifer sudah menganggap obrolan kami hanya ‘gosip belaka’ – pilihan yang bijaksana dengan tidak lagi dibesar-besarkan. Dia melirik Gladys sesaat.
            “Dia belum berbicara padamu?” tanyanya berbisik padaku. Tubuhnya bersandar padaku.
            “Belum.” Sahutku dengan acuh.
 “Apa sih yang kau lihat?” Jennifer mencoba menemukan arah pandanganku. Dia terperangah saat menangkap basah aku sedang memandangi keluarga Lombardi “Kau sedang memperhatikan keluarga Lombardi ya? Kau tertarik dengan mereka ya?”
Aku tergelak kaget, “Tidak juga.”
“Yang benar saja. Jelas-jelas kau sedang memandangi mereka.” Bersikeras Jennifer.
            “Tidak, aku hanya sedang mengalihkan perhatianku dari Gladys.” Aku sedikit berbohong saat itu, tapi dia tahu.
            “Sudahlah, kau tahu kau sedang tidak memikirkan Gladys kan? Apa kau menyukai Matthew?” kali ini dia menatapku, berharap aku menjawab iya namun aku hanya terdiam – mencoba mencari kata yang tepat untuk berbohong.
            “Menyukai Matthew? Jangan sembarangan.”
            “Lalu kenapa kau memperhatikan mereka terus?”     
            Aku memandang kaget pada Jennifer, “Maksudmu apa?”
            Well, kuperhatikan belakangan ini kau sering memperhatikan mereka. Jadi, kukira kau menyukai Matthew. Karena hanya dia yang belum punya pasangan. Iya, kan?”
            “Jangan sembarangan.” Tukasku cepat. “Aku sama sekali tidak tertarik padanya.”
            “Wow, kau yang pertama.” Pekik Jennifer senang.
            “Pertama apanya?”
            “Yang pertama yang tidak menyukai Matthew. Semua gadis di sini tergila-gila padanya. Bahkan mereka rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan perhatiannya. Tapi kau…”
            “Aku tidak menyukainya.” Jawabku kasar dengan menyela. Jennifer menutup mulutnya.
            “Baik, baik. Terlihat jelas kau memang tidak suka padanya. Oke, tutup mulut.” Jennifer bersikap dengan mengunci mulutnya rapat-rapat.
            Lalu saat aku dan Jennifer bersiap-siap untuk masuk ke kelas, tiba-tiba semua anggota keluarga Lombardi berjalan bersamaan dan melewati kami. Dengan segera aku langsung menahan diriku, mencoba menahan aroma menyengat dari mereka dan berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Jennifer malah bersikap terkesima saat melihat mereka dari jarak dekat.
            Julia dan Evelyn memandang tajam padaku, mereka menyeringai sinis dan miring padaku. Si Joan dan Lucca memandangiku dengan pandangan lurus, sedangkan Matthew hanya menyeringai miring tanpa menoleh padaku. Sikapnya sangat tenang dan percaya diri saat berlalu di depanku.
            Aroma menusuk dan menyengat tercium jelas sekali. Hidungku terasa tertusuk tajam dan ngilu saat mereka lewat. Butuh usaha kerasa untuk menahannya, entah bagaimana mereka bisa terlihat tenang dan santai saat sedang melewatiku, yang bagi mereka aku juga memiliki aroma yang menusuk dan kuat.
            “Wow! Mereka memang sangat tampan dan cantik. Aku baru kali ini melihat mereka dari jarak dekat.” Jennifer kedengarannya terkagum-kagum.
            “Pantas saja Matthew sangat di gilai. Dia memang sangat tampan. Atletis. Dan pintar. Wow!” lanjut Jennifer, memuji para vampire.
            “Sudahlah, saatnya masuk kelas.” Aku langsung berlalu menuju kelas dan meninggalkan semua anggota keluarga Lombardi di parkiran.

Hari berlalu, sudah beberapa hari sejak peristiwa di parkiran. Itu memang bukan yang pertama kalinya aku dan anggota keluarga Lombardi saling berhadapan langsung. Namun, entah mengapa saat itu terasa ada yang berbeda. Emosiku yang biasanya membuncah kuat setiap melihat mereka, saat itu justru aku bersikap lembut dan hanya berusaha untuk menghindari mereka saja.
            Hal ini membuatku penasaran. Aku berencana untuk mencoba menarik perhatian mereka, namun sayangnya keluarga Lombardi tidak datang ke sekolah. Di parkiran aku tidak melihat mobil sport mereka yang mahal itu. Aroma menyengat sama sekali tidak tercium. Mereka tidak datang ke sekolah.
            “Victoria, apa kau sudah mengerjakan tugas esay bahasa inggris?” tanya Jennifer padaku. Tapi aku mengabaikannya, aku sibuk mencari-cari sosok sempurna itu.
            “Victoria? Victoria?” panggil Jennifer.
            “Iya?”
            “Kau tidak dengar ya?”
            “Dengar apa?”
            Jennifer memandang kesal padaku, “Kau selalu begitu. Mengabaikanku. Ada apa? Apa yang sedang kau lihat sih?” Jennifer menyapukan pandangannya mencoba menemukan apa yang sedang aku lihat.
            “Aku sedang tidak lihat apa-apa.” Dustaku.
            “Jangan berbohong. Kau mengabaikanku, pasti ada yang sedang kau cari.” Jennifer terus mencari tahu apa yang sedang aku cari. Lalu dia memandangiku. “Jangan-jangan kau sedang mencari anggota keluarga Lombardi, ya?”
            Aku tergelak kaget. Jennifer memang cepat dalam hal menebak sesuatu yang tersembunyi – entah bagaimana, mungkin bakat. Dia menyipitkan matanya padaku, mengamatiku dengan seksama.
Dan ia pun semakin yakin. “Jadi benar, berita tentang kalian?” suaranya mulai terdengar oleh murid lainnya, dan sekarang aku sedang dipandangi oleh mata-mata yang menanyakan hal yang sama dengan Jennifer. Aku memberinya isyarat diam dan memelankan suaranya. Jennifer tertawa geli. Marco mendekatinya, dan aku mengabaikannya. Dan Jennifer, dia tetap tertawa.
            “Apa-apaan kau? Mereka mendengarnya, kan? Sudahlah.” Aku menghindarinya dan menjauh dari kumpulan anak-anak, Jennifer mengikutiku dengan masih menahan gelinya.
            “Jadi sekarang kau mulai menyukainya? Aku rasa dia dan saudaranya akan datang. Kau sangat menanti kehadirannya, kan?” Jennifer mulai bertaruh padaku. Berspekulasi sendiri. Aku menatapnya.
            “Jangan bergurau, ini sudah dua minggu dan aku yakin dia tidak akan datang sekarang juga.” Dan aku terjebak dengan Jennifer. Sial, pekikku dalam hati.
            “Baiklah, kita lihat saja. Jika aku benar, kau berhutang banyak.” Jennifer tersenyum puas. Dia begitu yakin dan bersemangat kali ini, sedangkan aku sungguh-sungguh berharap cemas dengan tantangan itu.
            Pelajaran Biologi pun dimulai, Mr. Neff memasuki ruangan dengan gagahnya dan begitu angkuh. Dia memanggil satu-per-satu nama muridnya, dan saat itulah aku merasakannya, kulitku merinding, aku mulai merasa kedinginan dan bulu-bulu di tanganku mulai berdiri.
Saat itulah sosok sempurna itu berdiri di depan, meminta ijin untuk mengikuti pelajaran dan Mr. Neff mengijinkannya, dia berjalan menuju mejaku dan akhirnya aku dan dia duduk satu meja dan kami adalah satu tim untuk beberapa kali tugas kelompok pelajaran ini pada semester ini. kulirik sorot matanya yang biru terang mengkilap indah, tidak ada lagi kekesalan dalam dirinya.
Aroma tubuh yang kurindui memuaskan diriku sesaat ini. Aku tergila-gila dengan wangi yang tidak bisa kugambarkan. Sangat menggiurkan dan menggodaku, sehingga aku merasakan mabuk karenanya.
Kulihat Jennifer tersenyum puas padaku, dia mengacungkan ibu jarinya padaku lalu aku hanya menundukkan kepala. Pelajaran itu berjalan dengan sangat menyiksaku, kulirik makhluk sempurna yang duduk di sampingku ini, dia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan tubuhnya menegang lalu dia mengetahui kalau aku sedang memperhatikannya. Aku memalingkan wajah, tidak lagi tertarik untuk memandanginya lagi. Aku hanya bisa melakukan hal yang sama, kali ini aku tidak terlalu tersiksa, hanya saja aku membutuhkan tenaga besar untuk mengendalikannya dan menahan semua perasaan ini.
            Bel tanda pelajaran selesai pun berbunyi, dan saat itu juga dia bangkit dan meninggalkan kelas dengan begitu cepat tanpa kusadari kepergiannya. Entah mengapa sikapnya itu membuatku sedikit kecewa, aku berharap bahwa Matthew bisa melirikku sekilas. Dan Jennifer menghampiriku dengan senyum puas kemenangannya
            Well, kau ingat tantangannya kan?” Jennifer benar-benar puas dengan senyumnya itu. Aku hanya menundukkan kepala, dan berjalan lemah untuk menuju kelas selanjutnya.
            Sepanjang jalan setapak aku dan Jennifer serta beberapa murid lainnya, kami diguyuri hujan rintik-rintik yang sudah datang sejak pagi tadi. Jennifer mulai menanyaiku, dia memulainya dengan peristiwa pingsan yang melegenda itu, lalu bertanya apa saja yang kami lakukan, hingga mempertanyakan sejauh apa hubungan kami.
            “Kau lupa, kalau Matthew pernah diduga ‘gay’? semua itu benar-benar membuat situasinya kacau balau. Tapi, Matthew dan keluarganya diam-diam saja. Seperti tidak peduli dengan semua gossip mengenai mereka itu.” Dia membisikkan kata-kata itu saat pelajaran Mr. Wrixon sudah dimulai sepuluh menit yang lalu, sebenarnya menceritakan lebih tepat dengan cepat Jennifer dan saat itu aku menatap makhluk sempurna itu.
            “Yah, aku ingat. Banyak yang sudah mengatakannya padaku.” Aku meliriknya lagi, kali ini Matthew tersenyum sinis dan memandangiku. Apa? ‘gay’? dia vampire. Ketusku – dalam hati
“Kau benar-benar aneh, Vic.”
“Apanya?”
“Yah, menyukai dengan seseorang yang pernah dikira dirinya ‘gay’ itu.” Jennifer mendesah, wajahnya dibuat khawatir karenanya dan membuatku sangat merinding mengingat gossip yang beredar mengenai Matthew. Ingin tertawa, kenyataannya bahkan tidak ada teorinya tentang vampire yang menghindari manusia tapi dipandang ‘gay’ oleh azas tak bersalahnya. Kurasa, manusia mudah ditipu.
Beberapa bulan setelah Matthew sekeluarga datang, mendaftar masuk ke sekolah ini. Banyak sekali gadis-gadis yang tergila-gila pada mereka, terlebih lagi Matthew. Beberapa puluh gadis mencoba untuk mengajaknya kencan, dari mengirimi surat cinta ke rumahnya dan diberikan langsung hingga mengajaknya dengan mendatangi rumahnya. Dan semuanya ditolaknya.
Dan puluhan gadis itu sangat terpukul – sehingga gossip Matthew yang tidak menyukai perempuan itu tersebar ke seluruh sekolah. Dan itu tidak pernah sekalipun dibantahnya – tidak juga dengan saudara-saudaranya.
Aku bergidik mendengarkan gossip murahan dari Jennifer, gossip yang pastinya menjatuhkan harga diri itu tidak pernah ada bukti nyata yang menegaskan tentang gossip itu. Matthew menyukai sesama jenis? Dia vampire – ungkapku dalam hati. Ingin tertawa. Gossip itu tak terdengar lagi. Aku kembali focus pada pelajaran ini.
“Dengar, aku tidak bilang kalau aku menyukainya. Okeh?” ucapku dengan tegas.
Well, tapi jelas terlihat kalau kau menyukainya, Vic. Kau sering memandanginya.” Jennifer kini memojokkanku.
“Itu bukan pertanda bahwa aku menyukainya, kan?”
“Lalu, apa artinya?”
Aku tergelak sesaat, “Aku hanya penasaran. Seperti katamu, mereka memang tidak pernah terlibat dengan segala kegiatan di sekolah. Aku hanya ingin mencari tahu.”
Jennifer terkekeh, “Alasan klise.”
            Begitu menuju kafetaria Jennifer tidak henti-hentinya menanyaiku. Dan aku harus terus menerus menjelaskan padanya aku dan Matthew tidak memiliki kedekatan apapun, dan dia terlihat kecewa. Dia ingin aku bisa membuktikan bahwa Matthew tidak ‘gay’ seperti yang tidak sengaja aku ucapkan.
            “Sungguh?” wajahnya sangat kecewa. Jennifer tak percaya. Aku ingin sekali membuktikannya bahwa seratus persen aku benar. Aku nyaris tertawa.
            “Yah, akan aku buktikan.” Aku kembali meyakinkannya. Jennifer masih tidak percaya. Jennifer tercengang.
            “Matthew bukan ‘gay’?” Jennifer mengulangi kata-kata itu. Mulutnya ternganga lebar. “Tapi, selama kami mengenalnya, dia belum pernah terlihat bersama wanita. Jadi, itu jelas sekali bahwa dia…” Jennifer terdiam sesaat. Aku terkekeh sendiri melihat Jennifer.
“Percayalah.” Gumamku enteng.
“Apa ini sebagai penjelasan bahwa ada sesuatu lebih di antara kalian? Dan kau mau membantunya membersihkan berita itu?” Jennifer terus merong-rongiku dengan pertanyaan ingin tahunya.
“Hubungan kami hanya korban pingsan dan sang penyelamat, hanya itu.” Aku kembali meyakinkannya, “Dan tidak ada hubungannya dengan gossip itu, oke?” Imbuhku dengan nada yang kelewat normal. Kukedipkan sebelah mataku – menggoda Jennifer. Jennifer hanya bungkam saja, mengerjapkan matanya dengan cepat.
Dan saat di kafetaria itu, aku melihat Matthew memandangiku, dia tersenyum sesaat – aku mengabaikan Jennifer yang masih jengkel karena aku menantangnya untuk membuktikan Matthew tidak ‘gay’ dengan peristiwa di ruangan kesehatan keseluruh orang di sekolah.
Saat itulah aku kembali memandanginya, melihatnya dari balik rambutku yang sengaja kugerai. Dia memandangiku, dan tetap memandangiku. Aku membalikkan badanku, membelakanginya dan tidak lagi memandanginya.
Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya hingga tidak sadar bahwa aku hampir terlambat untuk kelas bahasa inggris.
Selesai pelajaran bahasa inggris, Adam banyak bicara hari ini. Ia menceritakan tentang rencana keluarganya yang akan pergi ke Scott Lake yang ada di wilayah Thurston County. Butuh waktu lama dari rumahku menuju daerah yang sangat digemari seluruh masyarakat Olympia. Sebenarnya Scott Lake yang ada di Kota Olympia itu memiliki pemandangan danau yang indah. Air biru dan jernih, rerumputan hijau, udara sejuk, cocok untuk libur di akhir pekan.
“Ikutlah, Vic. Pasti menyenangkan.” Senyum manisnya mengembang di wajahnya – dan tentunya sorot mata Gladys membuat bulu kudukku berdiri. Aku hanya mengangkat bahuku. Dan Jennifer kembali mendesah.
“Victoria, danau itu sangat terkenal. Kau seharusnya ikut.” Ia memaksaku. Dan sepertinya Jennifer menyetujui rencana Adam. Jennifer mendaftarkan diri untuk ikut ke Scott Lake bersama keluarga Adam.
“Maaf, aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ini masih minggu-minggu pertamaku dengan keluargaku, dan sepertinya aku masih ingin menikmatinya.” Nadaku santai sekali. Adam sangat kecewa mendengarnya, wajahnya kembali sedih.
“Bukan karena Gladys, kan?” Jennifer berbisik mau tahu padaku. Aku kaget sesaat.
“Yah, itu juga.”
“Apa?”
“Dengar, dia menatapku cemburu. Mana mungkin aku mengkhianatinya. Lagipula, aku memang tidak tertarik berkunjung ke Olympia.” Aku mendesah agar suaraku agar tidak terdengar oleh yang lain.
“Kau pasti bercanda, kan?” Jennifer terperangah.
Jennifer sangat geram mengenai alasanku yang tidak ingin menyakiti Gladys di belakangnya. Aku tersenyum simpul.
“Dasar sinting kau, Vic.” Erang Jennifer. “Orang bodoh mana yang menganggap kau menyakiti Gladys di belakangnya, hah? Aneh.”
“Anggap saja orang itu adalah aku.” Lagi-lagi aku bersikap menyesal.
“Ugh!” Jennifer mengerang lagi. “Kau seperti orang yang selalu mau mengakui kesalahan orang lain. Padahal yang kau lakukan bukanlah sesuatu yang bisa disebut kesalahan. Itu hanya sikap kekanak-kanakan Gladys.”
Aku mendesah pelan lagi. “Soal yang terakhir itu, aku setuju.”
“Soal itu saja kau setuju.” Gerutu Jennifer masam.
Jennifer berharap aku bersikap santai dalam masalah kesalahpahamanku dengan Gladys, seperti tetap normal berpergian bersama-sama teman-temanku kemanapun. Peristiwa aku dan Gladys mengingatkanku pada Britany, peristiwa pasangan prom yang berakhir bahagia – walau aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan mereka.
Semua memutuskan untuk pulang, mengakhiri pembicaraan tentang berakhir pecan di pantai dan Adam menerima penolakkanku tentang rencananya pergi ke pantai. Tidak dengan Jennifer yang masih jengkel mendengar alasanku, tapi karena aku memang tidak tertarik.
            Sepulangnya aku di rumah, aku dikejutkan dengan kehadiran Matthew di depan rumahku. Seingatku aku jauh lebih dulu keluar dari sekolah, tapi yang lebih dulu tiba di depan rumahku adalah sosok sempurna yang mulai memabukkan diriku.
Tubuhnya yang tinggi sedang bersandar pada mobil Porschenya, dan ia juga menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Kemeja biru yang lengannya dilipat hingga batas sikunya dan juga sweater tanpa lengannya membuat ia begitu modis – layaknya model yang sedang mengiklankan produk mobil terbaru. Dan senyum manisnya tersungging dengan indahnya di wajahnya yang terlalu tampan.
Dia tersenyum puas, atau aku mengartikannya senyum menang karena datang lebih awal dariku. Untungnya rumahku sedang kosong, Mom sedang berada di Florida karena sedang mengadakan promo tour bukunya tentang bisnis yang menjadi best seller di Spokane – itu adalah pekerjaan sampingan Mom. Dia mendekatiku, dan semakin dekat. Sosok tegapnya terlihat menawan di hadapanku, senyum manisnya terlihat menggoda olehku.
            “Siang, Miss Victoria…” Sapanya dengan suara lembutnya yang merdu dan harum. Aku terpesona sesaat, dan mulai kembali menjauhinya. Saat itulah aku sadar bahwa aku tidak merasa kesakitan seperti sebelumnya, hingga membuatku pingsan. Dia menatapku bingung. Keningnya berkerut, tubuhnya bersandar pada Jeepku.
            “Kau.. Darimana kau tahu..”
            “Aku kenal cukup baik dengan keluargamu.” Suara lembut itu mulai terbiasa terdengar olehku. Aku menganggukkan kepala lambat-lambat.
            “Lalu, ada apa? Ayahku belum pulang… Dan ibuku…”
            “Dia sedang ada di Florida, kan? Aku tahu.”
Matthew benar-benar berbeda dari hari pertama pertemuan kami. Dan semakin menggodaku – walau tahu aku akan selalu menolaknya.
            “Aku ke sini untuk bertemu kau, dua minggu tidak bertemu kan? Apa kabar?”
            “Baik. Kau sendiri?” tanyaku, ragu-ragu.
“Baik, kau tahu sendirilah, bagaimana rasanya memuaskan dahagamu.” Akui Matthew dengan seringaian lebar, tampan dan manis sekali, “Kami berburu selama beberapa hari ini.”
“Baguslah, rasanya pasti tidak enak menahan dahaga, kan? Tunggu dulu, bukankah sebaiknya kita tidak tidak bersikap layak teman, hah?” mataku menyipit, tanganku bersedekap. Matthew memalingkan wajahnya ke langit, lalu memandangiku lagi dengan senyum puas dan aneh yang tidak kumengerti.
            “Yah, kau benar. Tapi sepertinya tidak bisa. Berita mengenai kita sudah menyebar, tanpa tahu siapa yang menyebarkannya.” Ucapnya, tertawa kecil. Matthew terlihat menahan tawanya sendiri, membuatku bergidik.
            “Kau tahu?” aku mulai panic. Matthew menyeringai lebar. Gigi putihnya terlihat mengkilap – walau sangat tidak mungkin walau gigi berwarna putih sekalipun. Kembali Matthew menahan tawa.
            “Tentu saja, apalagi temanmu menanyakannya padamu kan? Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin mengetahuinya, tapi mereka…” Matthew menahannya sesaat. “Mereka benar-benar mengira aku ‘gay’?” Tawanya pun tak tertahankan. Aku tercengang. Vampire bisa tertawa ya? – tanyaku sendiri. Matthew dengan terbahak-bahak.
            “Kalau saja mereka tahu kenyataannya, pasti mereka akan kaget setengah mati. Mengira aku ‘gay’ dan mengira kita berhubungan, kurasa mereka sudah gila.” Matthew terus saja berbicara, tertawa kecil, mengabaikan reaksiku yang kaget sekali, atau bisa dibilang aku tercengang dengan sikapnya.
Aku memotong pembicaraannya yang mulai membingungkan. Jari telunjukku berdiri tepat di depan hidungnya.
            “Darimana kau tahu hari ini aku ditanyai oleh temanku? Apa dia menceritakannya padamu? Dan kau tahu tentang semua praduga tak bersalah mereka tapi membiarkannya. Sial!” Aku mendesah jengkel. Wajahku terasa sangat panas sekarang. Dia tersenyum santai dan hampir tertawa – dan memperlihatkan gigi putihnya yang berkelap-kelip indah seperti berlian lagi.
            “Tenang, tidak ada yang memberitahukannya padaku. Tidak secara teknis, sih. Tapi mereka memikirkannya, dalam benak mereka. Dan dalam keadaan dekat atau jauh sekalipun aku bisa membaca  apapun yang mereka pikirkan dengan sangat jelas sekali. Seperti berbicara padaku saja, malahan.” Kali ini dia menyandarkan tubuhnya di hadapanku dengan sebelah tangannya yang berada di dalam saku celananya – sangat menggoda. Dan aku masih saja marah padanya.
            “Maksudmu, kau bisa membaca yang mereka pikirkan secara bersamaan baik dekat ataupun jauh? Begitu?” nadaku skeptic, mulutku menganga. Matanya tidak pernah sekalipun berpaling dariku, masih memandangiku begitu lembut dan indah.
            “Yah, begitulah. Tapi tidak selalu, aku harus mengenalnya dulu. Pikiran-pikiran itu. Kau lupa, aku bukan manusia. Aku vampire.” Senyumnya kembali mengembang di wajah  tampannya dan mempesonaku saat itu. Aku tergelak. Vampire tolol yang tampan tapi sayang kau terlalu menggodaku, bisikku – dalam hati.
“Seperti kau, kau bisa hidup sebagai manusia, dan juga pembasmi. Kau bahkan bisa mengenali semua aroma tubuh manusia atau pun makhluk lainnya walau aroma itu sangat samar darimu, itu kespesialanmu lainnya dari makhluk jenismu.” Godanya, aku terkesiap. Kagum dengan sikapnya hari ini.
            Aku tersadar saat itu, dia menjelaskan beberapa hal yang sebenarnya tidak ingin aku akui – kami berbeda – dan yah kami beda. Aku mengajaknya masuk ke dalam rumah, aku membuka pintu dan mengijinkannya duduk di sofa coklat kesukaan ibuku. Dia memandangiku, melihat gerakan kecil yang kubuat. Aku menyalakan lampu, menutup jendela karena hari mulai petang dan menyiapkan peralatan makan malam.
            Dia memperhatikanku dengan seksama. Aku membuatkan makam malam, lalu menyiapkannya di meja dan membuat minuman hangat karena hari ini hujan turun lumayan deras tadi siang. Lalu aku kembali padanya dan berbicara padanya.
            Matthew mendengus, “Kau terlalu normal untuk ukuran pembasmi muda.”
            Aku terhenti sesaa di hadapannya, “Benarkah? Memangnya seperti apa pembasmi muda, seharusnya?”
            Well, bisa dibilang kelewat agresif. Menggebu-gebu dan cenderung hiperaktif. Susah diatur dan senang melakukannya dengan apa yang sudah di pertimbangkannya.” Ia menjelaskan, dengan sikap ramah.
            Aku mendengarkan dengan sedikit kagum, “Kadang kala aku begitu.” Lalu aku meninggalkannya kembali melakukan aktifitas biasanya di rumah.
“Apa maumu?” tanyaku tiba-tiba dengan galak.
            “Senang rasanya bertemu dengan orang yang bisa diajak berbicara apapun, termasuk tentang nyatanya siapa dirimu, ya kan?” Aku mulai memecahkan keheningan saat itu. Dia memutarkan bola matanya dan kembali memandangiku.
            “Begitulah, bosan rasanya bercerita hanya pada keluargaku saja. Mengetahui adanya dirimu membuatku merasa lebih baik. Dan juga buruk.” Dia melihat sekeliling rumahku, dan kembali menatapku. Wajahnya tampak tenang. Tidak lagi merasakan goncangan hebat dengan hadirnya aku – pembasmi – di hadapannya.
            “Apanya?”
            “Karena kau berbeda. Jelas sekali, kan?”
            “Tentu saja, aku tahu artinya itu. Tapi maksudmu tadi, kau merasakan buruk?”
            “Kau pembasmi, kaulah malaikat pencabut nyawa bagi kami, para vampir. Kau menyiksa kami, kau tentu mengerti, kan? Itulah bagian terburuknya.” Ungkapnya, nyengir padaku. Aku jengkel.
            “Lalu bagian baiknya?”
            “Kau menarik perhatianku. Kau berbeda dari jenismu.” Jawabnya, menatapku dengan mengendipkan sebelah matanya. Aku tergelak dan berdebar-debar. Kata-katanya membuatku malu dan bingung secara bersamaan.
            “Kau melakukannya lagi. Kau curang sekali.”
            “Apanya?”
            “Beberapa minggu yang lalu, kau menawarkan pertemanan lalu kau kembali bersikap sabagai musuh padaku. Dan sekarang kau bersikap sangat ramah sekali. Bahkan kau baru saja memujiku, Matthew.” Kataku, jujur. Dan rasanya kau terlalu cepat berubah, Matthew. Imbuhku – dalam hati.
            Matthew tertawa. Aku mengernyit. Tawa lepasnya terdengar bak beledu, irama music nan merdu. Gigi putihnya seakan-akan berkilauan saat terlihat jika sedang tertawa.
            “Karena aku tahu sesuatu yang tidak kau ketahui..”
            “Apa itu?”
            “Itu rahasia.” Ucapnya, lembut.
            Kami terdiam. Kami berdua saling berpandangan, matanya biru terang tampak indah, senyumnya mengembang di wajah sempurnanya. Tak lama berselang, matanya mengawasi seisi rumahku. Mengamatinya dengan seksama seakan-akan sedang ada maling yang menyelinap kedalam rumahku.
            “Ugh!” erangku dengan menghentakkan kakiku. Matthew memandangiku cemas. “Kurasa aku butuh definis, penjelasan, alasan atau teori mengenai kalian.”
            “Untuk apa?” matanya memandangiku waswas. Aku nyaris saja membuka mulutku lebar-lebar. Bisa dibilang dia cukup acuh dengan keberadaan kami ini.
            “Agar aku punya alasan untuk tidak membunuh kalian, mungkin.” Suaraku terdengar tajam olehnya. Matanya langsung terbelalak lebar. Bahkan, terlihat menyeramkan sekali. Aku sampai meremang kaku begitu melihatnya.
            Bibirnya bergetar, seperti menahan sesuatu yang mungkin siap diluapkannya. Bahunya tegang sekali, bahkan terlihat tubuhnya juga menahan emosinya. Butuh waktu beberapa detik – sepertinya sudah semenit, untuk membuatnya merasa tenang.
            Dia menghembusakan nafasnya dengan pelan sekali. “Kurasa itu wajar.” Suaranya mencekam. Bahunya terkulai perlahan.
            “Bukan wajar,” sergahku santai. “Tapi bisa jadi akan begitu.”
            Kami sudah terbiasa dengan pertarungan. Kami kan, lebih dulu ada dibandingkan kalian – pembasmi. Kami juga sudah punya banyak pengalaman dengan pertarungan.” Suaranya masih mencekam kaku. Aku tergelak.
            “Oh, vampire tua. Pantas.” Gerutuku asal. Dua sudut bibirnya berkedut kaku. Kami kembali diam, lebih lama kurasa.
            “Dengar,” seruku tak tahan. Aku duduk menghadapinya dengan wajah tegas. “Kau harus menjelaskannya. Siapa kalian, sebenarnya. Alasan kuat, ingat? Aku bukannya mengancam, tapi kalian memang musuhku. Dan apapun alasan kalian yang bodoh dan dibuat-buat itu,bisa jadi akan membuat diriku jauh lebih pengertian nantinya, mungkin saja.” Ucapanku penuh penekanan dan keyakinan. Ia hanya menghembuskan nafas beratnya saja. Gerakan matanya mengejap dengan lambat sekali.
            “Mungkin lain waktu bisa aku jelaskan.” Sahutnya datar, tapi wajahnya tegang.
            “Kenapa tidak sekarang saja?” desakku kasar.
            “Bukan waktunya, anggaplah begitu.” Ia mengangkat bahunya santai. “Atau aku merasa memang tidak perlu.”
            Aku mendesah dengan lambat. “Kau makhluk paling keras kepala. Kukira, akulah yang paling keras kepala.” Aku menggerutu datar. Ia terkekeh.
            “Bukan,” sergahnya dengan suara merdunya dengan percaya diri. “Tapi aku terlalu egois.”
            “Egois?”
“Rumahmu hangat sekali. Ayahku bilang, Lionel dia menyukai ayahmu. Aku pernah bertemu dengannya. Sosok ayah yang sempurna. Sebagai manusia, tentunya. Kurasa kalian memang keluarga yang menyenangkan.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Kali ini dia menggodaku dengan suara merdunya yang lembut itu dan giginya yang putih itu mengkilap indah membuatku terpana. Aku masih terdiam sesaat, mengabaikan sikapnya yang sedang mengalihkan pembicaraan kami dengan sengaja.
“Apa?” tanyanya ragu-ragu.
“Aku tidak suka dengan pemikiranmu, Matthew.” Jawabku jujur dengan sikap defens. Matthew tergelak.
“Tentang?”
“Entahlah, aku tidak tahu apa yang kau ketahui tadi itu, dengan tingkahmu yang egois itu, tapi aku tidak ingin lebih dekat denganmu. Tidak sama sekali.” Gertakku. Matthew tenang dan terlihat cuek.
            “Mengapa tidak? Aku rasa kita bisa berteman baik.” Sergahnya enteng. Aku memandanginya galak sekali, bahkan sepertinya sedang memarahinya.
            Well, kau dan aku, kita sama-sama berbahaya. Jadi jangan berharap dan bermimpi hubungan kita jauh lebih baik dari ini.” Bentakku. Aku menatapnya galak, wajah putih pucatnya terlihat begitu sendu dan memohon. Kami diam selama beberapa detik.
            “Kau tidak senang jika… Aku mendekatimu?” Wajahnya membeku dan kaku. Aku mencoba memberinya isyarat dengan tatapan mataku, mencoba mengatakan tentang apa yang aku pikirkan.
            “Kurasa kau bisa membacanya lewat pikiranku. Jelas sekali, aku membuat pikiranku tentangmu.” Tantangku. Matthew terdiam selama dua detik. Ia mendongak dan menggelengkan kepalanya padaku. Mataku meyipit dan masih memandanginya.
            “Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Kau begitu kuat melebihiku. Kau jauh di atas kemampuanku.” Akui Matthew. Alisku bertaut.
            “Benarkah?”
            “Ya.” Matthew menjawab dengan suara getir. “Pembasmi sangat kuat. Kuat sekali. Apapun yang mampu dilakukan pembasmi, bisa dilakukan puluhan kali lipat dibandingkan makhluk apapun. Dan, vampire seperti aku tidak bisa menembus pikiran pembasmi.” Matthew menjelaskan dengan cepat, tapi terdengar jelas olehku. Wajahnya tampak muram.
            “Mengapa tidak?” aku memandanginya bingung.
            “Pembasmi lebih suka berpikir. Semua kesibukannya ada didalam pikirannya. Seperti dibentengi kuat-kuat. Tapi, akan beda pikirannya jika sesama pembasmi. Setahuku, begitu.” Sikap Matthew terlihat nyaman berbicara dengan santai begitu.
            “Bakat vampire apapun yang berhubungan dengan pikiran dan mengarahkannya pada pembasmi, pasti tidak akan berfungsi. Jelas sekali.” Matthew tersenyum kecil, matanya sesekali melirikku dan berpaling memandangi bagian lain di dalam rumahku.
            “Bisa dimengerti olehku.” Gumamku datar. Ia tertawa renyah padaku. “Bukankah sebaiknya kau pulang sekarang?” suaraku hati-hati sekali, bahkan mungkin seperti berbisik sendiri. Tapi dia terkesiap.
            “Merasa tidak nyaman?” tanyanya, dengan wajah kecewa bercampur sendu.
            “Itu hanya sebagian dari banyak alasan utamanya saja.” Sahutku enteng.
            “Memangnya alasan utamanya apa?” desaknya mau tahu. Aku memandanginya selama beberapa detik lamanya.
            “Bahaya besar dengan adanya dirimu di rumahku. Ditambah, mungkin, keluargamu akan menyusul. Aku tidak mau ada pembunuhan berdarah di sini.” Jawabku dengan sinis. Matthew kembali mematung kaku.
            “Mereka tidak akan ke sini. Berani bertaruh, selama eksistensiku.” Ia membuat diriku semakin susah beragumentasi dengannya.
            “Oh, aku yakin kau pasti menang taruhan.” Matthew tertawa geli mendengar ocehanku. Padahal aku mengucapkannya dengan cukup kesal karena sikapnya yang kelewat percaya diri itu.
Aku memalingkan wajahku darinya. Sedang berpikir, sebenarnya. Entah harus mengucapkan kata-kata apa lagi agar dia mau mengerti. Atau mau membuatku tenang dengan kehadiran dia dan keluarganya di kota ini. Atau sebuah alasan palsu yang bisa membuatku yakin bahwa mereka pantas berada di sini.
Seharusnya aku dan dia tidak duduk manis dan bersebelahan begini. Dia vampire, dan aku pembasmi. Dua makhluk yang sama-sama berbahaya.
            “Dengar… Tidak seharusnya kan kita melakukan ini. Aku butuh definisi darimu. Perlu banyak kejujuran darimu. Ini butuh proses. Kau sulit dimengerti, Matthew. Sebagai vampir yang terlihat normal.” Aku sedikit melembut padanya. Benar-benar memohon padanya. Kulihat tatapannya tidak kaku dan dingin lagi, dia menghembuskan nafas sebelum menjawabnya.
            “Memang seharusnya tidak begitu, tapi…. Kau pengecualian bagiku.” Dan dia masih terus memandangiku penuh harap. “Aku hanya ingin…. Mengenalmu. Hanya satu kesempatan.” Dan wajahnya pun terlihat lembut di mataku. Aroma tubuh yang menggiurkan, tubuh yang menjulang tinggi dan kulit putih yang halus seperti sutra membuatku terpesona dengan kesempurnaannya. Aku menggelengkan kepalaku.
“Kau tidak mengerti arti penolakkan dariku yah?” tanyaku sinis.
“Aku mengabaikannya.” Ungkapnya enteng.
“Aneh.”
Matthew tertawa, “Tapi aku menikmatinya. Membuatmu bingung dan mungkin itu akan membuatmu semakin tertarik denganku.”
Aku tergelak. Matthew menyadarinya. Matthew tampak puas sendiri, seakan semua ini terjadi sesuai dengan skenarionya. Dia masih memperhatikanku dengan pandangan yang berbeda, aku bahkan tidak tahu bagaimana harus mengartikan pandangannya itu. Lalu tubuhnya berubah kaku, dan mulai berdiri.
“Kau kenapa?”
            “Maaf, aku harus pergi. Ayahmu akan pulang sebentar lagi.” Wajahnya kembali menegang. Tubuhnya bergerak cepat menuju pintu.
“Baiklah,” Aku mendesah.
“Apa besok kita akan bertemu?”
“Mungkin.”
“Mengapa ‘mungkin’?” wajahnya mulai was-was, ia membalikkan tubuhnya menghadapku dan tidak tersenyum sedikitpun  saat aku ingin menjawabnya. Matthew mendahuluiku berbicara sebelum aku menjawab.
“Maafkan aku, sepertinya ayahmu semakin dekat. Aku pulang, dah.” Tubuh itu mulai menghilang, dan sudah lenyap dari pekarangan rumahku yang luas itu. Yang tertinggal hanya aroma tubuhnya. Sebelum aku sempat berdebat kecil dengan. Dan aku menggelengkan kepala. Dasar vampire. Bisikku – dalam hati.
Dan benar saja, Dad sudah berada tepat di depan rumah setelah beberapa detik setelah Matthew pergi tadi. Ia sudah memarkirkan mobil di dalam garasi dan memasuki ruangan.
“Siang, Dear.” Dad menyapaku dengan suara lantangnya. Aku hanya menyunggingkan senyum simpulku saja. Tapi, ternyata Dad memperhatikan sikapku yang sedang melihat pemadangan kosong.
“Kau lihat apa?”
“Oh, tidak. Bukan apa-apa, Dad.” Bohongku. Aku langsung menuju kamarku dengan buru-buru.

Hari Rabu ini adalah hari pertama kami melewati pelajaran matematika berdua. Dan ‘mungkin’ yang kuharap adalah kenyataan kami akan bertemu ternyata terjadi juga.  Hari itu Mr. Wrixon meminta kami untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sangat menguras intelegensi tinggi. Dan aku membencinya.
Semua soal hanya dikerjakan oleh dua orang dan jumlahnya ada lima soal, dan sialnya serta bercampur senang aku berpasangan dengan makhluk paling sempurna, Matthew. Tubuhnya menyembangiku, ia sedikit menunduk saat sedang memandangiku. Wajah putihnya yang sehalus sutra itu memandangiku begitu lekat. Tak pernah sedetikpun ia melalaikanku dari penglihatannya.
Ia duduk di sampingku, memandangiku hingga aku yakin semua anak yang ada di kelas melihat kejadian ini. Pandangannya lurus dan pasti padaku. Membuatku canggung saja.
“Kau siap?” tanyanya dengan suara merdu yang dipelankannya. Wajahnya mencondong padaku. Aku menundukkan kepala. Menganggukkannya dengan lambat.
“Yah, tentu.”
“Baik, pertanyaan pertama. Sepertinya ini mengenai persamaan kuadrat.” Aku membaca sekilas lalu mulai menuliskan jawaban dengan rumus-rumus yang tidak boleh salah. Dan ia masih memperhatikanku.
“Apa kau selalu melakukan ini?” Aku mendesah dan ia nampak bingung – alisnya bertaut sesaat. Padahal aku sedang menulis dengan cepat sekali.
“Apanya?”
“Memandangi setiap orang yang duduk di depanmu?”
“Oh.” Dia tersenyum dengan senyum puas bercampur percaya diri total. “Tidak pernah, ini yang pertama.” Dia tetap menampilkan gigi-gigi putihnya padaku. Dan aku terpesona.
“Dan ini yang paling dekat.” Imbuhnya dengan senyum kelewat merekah manis dan tampan. Matthew berbisik dan mencondongkan tubuhnya padaku. Aku tergelak. Menatapanya galak.
“Ini, soal kedua. Masih persamaan kuardrat.” Aku menyerahkan kertas soal padanya. Dan dengan anggun dan cepatnya ia menjawab soal itu, tanpa harus berpikir keras. Gerakan tangannya menulis lebih cepat dariku. Ia tertawa melihat ekspresiku dan tanpanya itu memuaskannya. Aku menundukkan wajahku.
“Kau tahu, Adam. Sepertinya ia sedang memperhatikan kita.” Aku melirik kebalik pundaknya, dan memang benar. Wajah Adam tidak pernah berpaling sejak aku duduk dengan Matthew dan ia memandangiku penuh cemas. Adam tampak gusar, memperhatikan setiap gerak-gerik kami.
“Dan sepertinya ada yang tidak suka?” Ia kembali menggodaku. Aku geram, dan mengambil kertas soal tanpa menjawab pernyataannya itu. Aku tidak merespon pernyataan itu, karena kenyataannya memang begitu adanya.
Tidak usah melirik wajah yang cemburu – yang dimaksud oleh Matthew – karena  aku tahu siapa yang dimaksudnya. Gladys.
“Sebaiknya kau tidak melakukannya. Hentikan!” Aku berbisik padanya dan mengambilkan kertas soal darinya. Dan ia tersenyum. Jari-jari panjang dan lentiknya – astaga, dia kelewat sempurna – menari-nari di atas meja. Dihentakkannya dengan tenang.
Sepertinya ia menikmati momen membaca pikiran Adam, atau Gladys, entahlah. Besyukur juga dia tidak bisa membaca pikiranku. Wajahnya tampak datar-datar saja, bibir tipis dan merah basahnya saja yang berkedut-kedut, lalu mengerucut dan berdecak aneh.
“Hmm… rasanya ada kisah cinta segi empat.” Ia bergumam senang sendiri. Aku meliriknya sekilas.
“Masa bodoh.” Jawabku tidak peduli. “Bahkan tidak pernah ada sebutan untuk cinta yang seperti itu.”
“Memang. Tapi, situasinya seperti itu. Kisah cinta yang tidak biasa.” Ia menyahut cepat, dengan seringaian puas. Aku memandanginya bingung.
“Bicara apa sih? Lagi membuat cerita film sendiri, ya?” Matthew malah tertawa geli, menurutnya pertanyaanku lucu. Padahal aku memandanginya dengan kerutan didahiku.
“Bahkan lebih seru dari film. Ini seperti cerita sinetron saja.” Ia masih terkekeh geli sendiri.
“Hentikan!” bentakku.
Selesai pelajaran matematika – yang sekarang harus kuakui ini adalah bencana untukku, ia masih memandangiku. Tubuhnya mengikuti gerakkanku. Dengan langkah anggunnya, Matthew mengikutiku dan Jennifer. Aku dan Jennifer sedang berjalan menuju gedung tua dan akan mengikuti pelajaran olahraga. Sebelum aku benar-benar mengikuti pelajaran olahraga aku memintanya untuk menjauhiku.
Dengan wajah tampannya, tubuh tegapnya yang berdiri bak model yang sedang bergaya dengan stelan pakaian mewah di salah satu acara fashion show. Dengan menyunggingkan senyuman manisnya padaku, keyakinannya yang tak goyah. Dengan santai dan ramah dia memperhatikan aku mendekatinya.
“Ada apa?” Aku menghampirinya dengan sikap galak, dan ia pun tertawa. Dan semua pasang mata memandangiku, mereka memandangi dengan berbagai ekspresi. Ada yang senang, kesel, kecewa dan juga berseri takjub.
“Ada yang ingin kau katakan, Matthew?”
“Kau bilang kau tidak mau berteman denganku? Kau mengabaikan penawaran persahabatan denganku.” Ia menggodaku dengan suara merdunya. Sikapnya benar-benar percaya diri dan mantap sekali. Aku kembali bergidik.
Sekilas sebelum menjawab aku melirik beberapa pasang mata. Mereka mengamati kami dengan seksama dan vampire tolol nanrupawan ini mengabaikannya.
“Memang tidak.”
“Lalu?”
“Apanya?” aku menatapnya jengkel. Matthew tertawa. Seakan inilah yang dinantikannya. Seakan aku merasa puas dan senang dengan peristiwa tadi. Seakan aku menginginkannya.
“Kau sedang berbicara denganku sekarang ini. Dan tadi di kelas, kau memandangiku. Begitu juga beberapa hari yang lalu. Kau menikmatiku saat aku berada di dekatmu, kan?” Senyumnya kembali merekah puas. Aku ternganga. Wajahnya tampak puas sekali, seakan-akan dia mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Kau duduk di hadapanku, dan kita sedang mengerjakan tugas kelompok. Menurutmu apa aku perlu menutup mataku jika kau berada di hadapanku? Dan lagi, saat ini kau sedang berdiri di depanku, apa aku juga harus menutup mataku? Kau yang memulainya, itu yang harus kau ingat. Bukan aku.” Sergahku, galak. Matthew tersenyum renyah, mengabaikan apa yang aku tunjukkan padanya.
“Tidak perlu menutup matamu. Aku suka saat matamu memandangiku.” Tukasnya puas, “Dan kau boleh memandangiku sepuasnya, dan itu artinya kau menerima pertemanan ini. Sungguh aku tidak masalah jika kau benar-benar menginginkannya.” Imbuhnya, santai dan tenang. Penuh percaya diri, selalu saja begitu. Aku hanya menggelengkan kepala dengan lambat dan dahinya mengerut. Bibirnya berbentuk kerucut – dan aku mendahuluinya berbicara.
“Jangan banyak berharap.” Jari telunjukku berdiri tegap di depan matanya – memberinya tanda peringatan. Ia menggelengkan kepalanya penuh bingung dan mengangkat bahunya – tanda tidak mengertinya – dengan polos.
“Kau sukar dipercaya dengan sikap dan pikiranmu itu. Apa maksudnya ini?” tanyaku, akhirnya. Matthew diam sesaat. Mengawasiku lekat-lekat. Bibirnya mengerucut.
            “Tidak berubah, sama seperti kemarin. Ingin mengenalmu.” Akui Matthew. Aku menggeleng kepala.
“Dengar, hubungan kita cukup antara vampire dan pembasmi. Itu saja. Tapi selama di sekolah, ada sedikit pengecualian. Itu juga terdesak, itupun terpaksa. Jangan menuntut lebih!” Aku menatapnya penuh yakin. Dan ia pun tertawa.
“Jangan pasang benteng kuat-kuat, Victoria. Kau tahu itu tidak mungkin.” Bantahnya, menggodaku. Aku tercengang. Aku memandanginya, vampire tampan ini bahkan tidak terlihat menyesal atau bahkan bersalah atas apa yang sudah dikatakan dan dilakukannya padaku.
“Aku harus melakukannya. Kau susah dilarang.” Bantahku dengan keras kepala, juga. Matthew menyeringai miring padaku, sikapnya kelewat percaya diri.
“Kau akan tahu bahwa itu sia-sia.”
“Kita lihat saja, siapa yang menyerah lebih dulu.” Tantangku. Sudut bibirnya tertarik kebelakang, membentuk senyuman lebar dan manis. Aku bergeming.
“Baik. Aku harap itu adalah kau.” Matthew menerima tantanganku. Sikapnya yakin dan mantap sekali. Senyuman manisnya puas dan senang. Aku tercengang.
“Itu maumu.” Sergahku dengan galak. Matthew terkekeh geli.
Jennifer memanggilku, pelajaran olahraga akan dimulai. Ia menungguku di depan pintu gymnasium. Aku meninggalkannya saat ia masih tertawa. Aku mendesah.
“Wow, kau dan dia cukup ‘dekat’?” Jennifer berbisik padaku, dan alisku bertaut. Kembali semua pasang mata memandangiku di gymnasium. Dan dengan perasaan yang menyesal membuatku sangat minder.
“Bukan seperti itu, ia hanya...”
“’dekat’ itu artinya kalian memiliki sesuatu special. Dan apa itu salah satu alasanmu menolak ajakan ke Scott Lake? Justru itu akan membuat situasi sekolah lebih heboh. Ajaklah. Pasti asyik.” Jennifer masih mendesakku, menuntut aku lebih tepatnya.
“Dengar, bukan begitu situasinya.” Elakku. “Kami tidak sedekat itu. Dia hanya sedang bertanya sesuatu padaku dan aku menjelaskannya. Itu saja, tidak lebih. Oke?”
“Jika iya, aku tidak masalah. Pasti menyenangkan. Sangat menyenangkan jika kau bisa ‘dekat’ dengannya.” Seru Jennifer dengan menggodaku. Aku memandanginya tercengang.
Jennifer meninggalkan aku sendirian di lapangan, ia menghampiri teman-teman lainnya. Dan aku, masih terbelalak kaget.
“Aku rasa kau benar. Matthew bukan ‘gay’.” Teriak Jennifer. Mengedipkan sebelah matanya dan berlari kecil menuju lapangan tengah. Dengan senyum girang. “Kelihatannya dia menyukaimu, Vic.” Jennifer semakin menggodaku. Rasanya aku ingin sekali memekik pada Jennifer.
Selesai pelajaran olahraga aku dan Jennifer menuju kafetaria. Ia dan keluarganya sudah duduk manis di dalam. Sorot matanya pun masih sama saat terakhir kali kami mengobrol tadi. Jennifer terus menggodaku, walau ia tidak menceritakan pada yang lain, tapi perkataannya benar-benar menggangguku.
“Kau pasti sangat bangga. Bisa berbicara dengan orang yang paling anti dengan wanita di sekolah ini.” Jennifer bersiul dengan riang. Itulah kaliamat Jennifer yang paling tidak kusukai. Ia masih terobsesi dengan keinginannya – pembuktian bahwa Matthew tidak ‘gay’. Sebenarnya itu sesuatu yang sangat baik, tapi tidak seharusnya itu mengorbankan apa yang telah aku yakini. Tidak seharusnya aku yang membuktikannya sendiri.
“Kurasa semuanya sudah mengetahuinya, kau telah membuktikannya, Vic.” Seru Jennifer, dengan nada riang menambahkan ucapan sebelumnya.
“Bukan begitu, Jen.” Sergahku. Aku mencoba menjelaskan situasiku dan Matthew yang tidak normal – berbahaya.
“Sudahlah.” Jennifer terkesiap. Lalu dengan cepat mengajakku jalan dengan cepat menuju kafetaria. Wajahnya tenang sekali, sedangkan aku sedikit was-was.
“Kami hanya berteman. Dan itu terlihat jelas. Baguslah jika apa yang terjadi hari ini bisa membuktikannya. Tapi ini sudah cukup. Kami hanya berteman saja. Orangtua kami saling kenal, itu saja.” Ucapku, berusaha meluruskan gossip yang sudah menyebar pada Jennifer.
“Apa salahnya kalau kalian ‘dekat’?” Jennifer mengamati wajahku dengan seksama, begitu jelas pengematannya membuat bulu kudukku berdiri.
Aku tidak menjawabnya, mengabaikannya dan membiarkan ia menggodaku dengan pendapatnya sendiri. Aku hanya terus diam tidak berbicara dan juga tidak menjawabnya dan ia sangat senang dengan reaksiku. Tentu apa yang aku rasakan, apa yang aku pikirkan tidak bisa dimengerti siapapun.
“Sudahlah. Hentikan menginterversiku, Jen.” Sergahku dengan kesal. Jennifer terkekeh geli.
“Oke, oke. Santai saja.” Ia tersenyum jail padaku.
 Well, bagaimana dengan rencana ke Scott Lake, Adam? Sabtu ini, kan?” suara lembut Anne memecahkan kebisingan di meja makan. Semuanya berubah menjadi was-was. Semua mata memandang Adam sekarang. Wajahnya terlihat tidak semangat seperti kemarin saat mengajakku ke Olympia – dan berakhir dengan penolakkan.
“Sepertinya tidak jadi, orangtuaku sibuk.” Dan aku memandanginya dengan penuh kasihan. Sesaat aku merasakan itu adalah kesalahanku, tapi tidak semuanya karena ia berencana pergi dengan keluarganya yang sangat super sibuk – begitulah yang kudengar dari Mom dan Dad. Dan Jennifer mulai jengkel.
“Jadi batal?”
“Ya.”
“Tidak menyenangkan ah.” Jennifer menggerutu kesal sendirian. Adam terlihat menyesal juga, wajahnya tampak muram.
Dan wajah mereka kembali muram, sedih dan kesal. Beberapa hanya memandangi Adam dan Jennifer. Rencana ke Olympia yang sudah lama Adam susun dengan keluarganya hancur berantakkan, ia begitu semangat waktu kemarin mengajakku ikut bersamanya. Aku menggigit bibirku dan sedang berpikir apa yang seharusnya kulakukan.
Well,” Suaraku terdengar lemah dan gugup. “Bagaimana jika kita semua pergi ke sana? Walau orangtua Adam tidak bisa kurasa kita bisa ke sana.” Sepertinya aku baru saja memberikan ide bagus untuk berpiknik bersama dengan teman-temanku. Aku rasa, memang begitu. Bisa juga kulakukan.
Dan semua pasang mata memandangiku penuh tanya. Mereka terkejut sekaligus kaget dengan ajakkanku. Kemarin aku menolaknya dan hari ini aku yang mengajak semuanya.
“Maksudmu ke Scott Lake?” Jennifer masih memandangiku tidak percaya. Ia menggelengkan kepalanya. Begitu juga Steve, mulutnya ternganga lebar dengan bola mata yang terbelalak.
“Tentu saja.”
“Tapi kau bilang, kau tidak bisa.”
Adam mencondongkan badannya lebih dekat dengan meja dan memandangiku lekat. Jennifer pun melakukan hal yang sama, mencondongkan tubuhnya.
“Yah, memang.” Aku berusaha tenang dan yakin. “Tapi sepertinya aku bisa bersenang-senang dengan kalian sesekali, kan?” Lanjutku. Marco, Lucas dan Jessie tersenyum lebar. Wajah mereka sangat berseri-seri. Dan Jennifer, ia masih memandangiku dengan sebelah alisnya terangkat.
“Bagaimana dengan acara keluargamu?”
“Tenang saja, beberapa hari lalu aku sudah ikut perayaan di pusat kota. Dan sepertinya kami tidak punya acara minggu ini.”
Marco tampak sangat ceria. Lucas lebih ekstrim lagi, ia sangat girang dan beberapa kali meneriakkan namaku dengan menggenggam erat jari-jari tangannya – seperti mengepalkan tangan yang digerakkannya di atas meja.
“Tentu saja, ayahmu pasti sibuk di museum.” Adam kini kembali berseri.
Dan itulah kenyataan yang kumaksudkan tadi. Memang sejak Dad sibuk di museum kami jarang menghabiskan malam bersama, dan sejak Mom memiliki pekerjaan sampingannya kami makin jarang berkumpul.
“Aku tidak masalah. Sepertinya menyenangkan.” Dan Lucas memberikan dua jempolnya lagi padaku, tanda bahwa ideku begitu brilian. Jessie dan Anne juga setuju, mereka memberikan dua jempol tangannya padaku dan tersenyum girang sekali. Marco lebih parah, ia mendekatiku dan menciumi pipiku dengan spontan.
Aku terkejut dengan aksi Marco yang sangat berlebihan, Steve hampir melakukan hal yang sama, mencoba menciumi sebelah pipiku yang tidak diciumi Marco tapi aku mengelaknya.
“Baiklah, aku ikut.” Adam memberikan lima jarinya – tanda tos khas mereka, yang baru kuketahui mereka membuatnya. Jennifer juga mengacungkan jarinya, dan ia memelukku erat dengan ekspresi senangnya.
“Bagus sekali idemu.”
Trims.”
“Pasti menyenangkan.”
“Tentu saja. Aku sudah tidak sabar lagi.” Seruku, dengan nada antusias.
Jennifer memandangi keluarga Lombardi – yang sejak tadi memperhatikan semua gerak-gerik kami dengan seksama. Aku mengerti arti tatapannya dan aku menggelengkan kepala.
“Kau bisa mengajaknya?”
“Maksudmu Matthew?”
Ia menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Iya. Ajak saja.”
Bola matanya memandangiku dengan penuh keyakinan dan aku hanya memandanginya penuh ketidakpercayaan. Gladys memandangiku, tatapan itu tidak kumengerti. Tatapan cemburu bercampur kesal dan juga marah – aku menduganya.
“Pembuktian total.” Bisik Jennifer dengan tawa gelinya. Aku tergelak.
“Bodoh. Aku rasa itulah yang akan jadi nama tengahku.” Sergahku sinis. Jennifer mengernyit.
“Kenapa?”
“Matthew? Menurutmu, apakah akan banyak yang senang melihatnya berkumpul dengan kita ke Scott Lake layaknya manusia normal? Aku rasa tidak. Malahan mereka pasti akan merasa risih jika melihat kehadirannya, Jen.” Nadaku sarkatis.
Jennifer semakin bingung. Dahinya berkerut. Matanya menatapku lekat-lekat. Dan aku tergelak sendiri. Aku nyaris mengungkapkan ‘kenormalan’ Matthew dan keluarganya. Aku sadar akan kecerobohanku yang ‘nyaris’ membahayakan Matthew dan keluarganya.
“Setidaknya dia memang manusia normal, kan? Bukan ‘gay’?” tanyanya, ragu-ragu. Aku berdecak sendiri.
Bodoh – gertakku sendiri. Dan memang aku-lah yang bodoh kali ini. Aku mencoba tersenyum sendiri. Jennifer mengalihkan pandangannya pada Gladys – yang sedang bersiap-siap merapihkan barang-barangnya di atas meja – yang tidak memperhatikan diriku.
“Glad, menurutmu bagaimana? Ini pasti seru, kan? Ikutlah.” Seru Jennifer, antusias. Gladys menatapnya dengan tatapan sinis. Jennifer mengabaikannya, seakan itu tidak masalah baginya.
“Glad, kau bagaimana? Apa kau ikut?” Suara lembut Anne membuatnya berpaling dariku dan Jennifer. Ia tidak langsung menjawabnya sepertinya ia berpikir sejenak.
“Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa ikut.” Dan ia memberikan wajah yang penuh penyesalan. Aku merasa alasannya adalah karena adanya aku di sana atau mungkin karena ini adalah ideku.
“Ayolah, ini pasti menyenangkan.”
“Maaf, Adam tapi aku memang tidak bisa ikut.” Tolak Gladys.
Dan Adam kembali berwajah muram. Yang lainnya sedang mendiskusikan tentang mobil yang akan dipakai menuju pantai. Mengingat Adam mempunyai mobil Surbubannya, Marco memintanya untuk bisa dipakai. Karena dengan mobil Surbubannya yang lumayan luas, hampir semua yang ikut bisa masuk ke dalamnya. Adam menganggukkan kepala, tanda ia menyetujuinya dan Marco kembali riang gembira.
Aku memutuskan untuk tetap membawa Jeepku, dan Jennifer akan bersamaku. Terlihat selintas wajah Adam yang tidak menyukai keputusanku tapi ia tidak mempermasalahkannya. Dan begitu juga yang lain. Aku menolak, siapapun menjemputku atau aku harus menumpang pada siapapun.
Selesai dengan pembicaraan tentang pantai Sabtu ini, kami memasuki kelas masing-masing. Aku, Jennifer, Gladys dan Adam mengikuti pelajaran sejarah dan Marco dan Lucas mengikuti pelajaran olahraga. Saat melewati jalan setapak kami diguyuri rintik-rintik hujan yang sebelumnya hanya ada awan gelap mengelilingi langit tadi siang.
Gladys masih diam dan dingin padaku, tidak pernah membiarkan aku untuk mendekatinya. Ia selalu berjalan bersama Adam atau Jennifer, atau Steve atau Anne, yang jelas tidak denganku. Gladys benar-benar menghindariku dan berusaha untuk menjaga jarak dariku. Aku mendesah karena sudah lama ia tidak mengobrol denganku.
Kadang tatapan matanya begitu dingin dan keras, aku tidak mengerti apa yang hendak dikatakannya. Dan biasanya ia hanya melewati tubuhku tanpa berpaling dan berkata apa-apa, tidak pernah sejak pertengkaran kami.
“Gladys menolaknya karena ini rencanamu.” Jennifer membuka pembicaraan setelah pelajaran sejarah selesai. Aku melirik sekilas pada Gladys, ia sedang membereskan buku-bukunya yang berantakkan di meja. “Dia paling tidak suka berdekatan dengan orang-orang yang membuatnya kesal atau mengecewakannya.” Lanjut Jennifer. Dan aku mengangkat sebelah alisku. Terlihat jelas Gladys bersikap seakan-akan aku tidak ada. Gaib. Dan tidak kenal.
“Tentu saja.” Aku berbisik saat menjawabnya – kami menuju parkiran sekarang. Tubuh Jennifer masih memandangi Gladys saat kami berjalan tidak jauh dari Gladys.
“Ya, dia benar-benar menghapus namamu dari daftar temannya.”
Thanks.”
Jennifer tertawa melihat reaksiku, ia telah mengingatkanku tentang hal yang paling kutakuti. Ia masih tertawa saat aku berada didalam Jeep dan menyalakan mesin mobil.
“Tenang saja, ia akan kembali. Gladys tipe penyayang teman.”
“Oh ya?”
“Tentu.”
“Jen, ini sudah berminggu-minggu. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa di hadapannya. Bertemu denganku saja dia memalingkan wajahnya. Seakan-akan aku ini tidak ada.” Jennifer menggelengkan kepala, sejenak ia berpikir.
“Sebaiknya kau tetap saja besikap biasa. Ini hanya salah paham. Suatu saat Gladys akan sadar sendiri.” Ucap Jennifer, santai dengan menyarankan padaku. Dan aku mendesah, pasrah.
“Baiklah.”
“Dan jangan kau jadikan ini masalah serius.”
“Tentu tidak.”
“Baiklah, sampai jumpa.”
“Dah.” Ucapku, datar.
Ia menjauhkan tubuhnya dari Jeepku dan melambaikan tangannya. Kulihat dari kaca spionku ia sedang bersiap-siap menyalakan mesin mobilnya sambil berbicara dengan Marco dan Lucas. Jennifer memang cukup akrab dengan dua pria muda tampan itu.

“Sabtu besok teman-teman berencana untuk ke Olympia. Apa boleh aku ikut, Dad?” Aku memecahkan kebisuan saat makan malam. Aku menunggu Dad dan Mom untuk meminta ijin, agar aku bisa pulang malam jika memang diperlukan. Mom memandangku penuh tanya dan Dad, ia mengerutkan dahinya dengan wajah yang tertunduk melihat piringnya yang penuh dengan isi makan malam.
“Siapa saja yang ikut?”
“Banyak, Adam juga ikut.” Kali ini alisnya terangkat dan wajahnya mendongak memandangiku dengan matanya yang menyipit.
“Oh, teman sekolah.” Dad hanya bergumam santai.
“Baguslah, pasti menyenangkan menghabiskan waktu dengan teman-teman.” Suara Mom terdengar begitu riang dan senang. Wajahnya tersenyum, lembut dan juga sangat bersahabat denganku. Ia sedang membesihkan meja dari piring-piring kotor. Dan Dad kembali menonton acara favoritnya, sepak bola.
“Baiklah, kau boleh jalan-jalan. Tapi ingat…” Tubuhnya berhadapan denganku dan jari telunjuknya berdiri tegap di depan mataku.
“Kau tidak boleh mengabaikan tugas sekolahmu.” Ucap Dad, dengan tegas.
“Tentu saja tidak.”
“Bagus kalau begitu.” Dan ia kembali menonton televisi dan mengikuti acaranya dengan terlalu antusias. Baru beberapa langkah sebelum aku benar-benar meninggalkan Dad sendirian, Dad memanggilku.
“Victoria?”
“Iya, Dad?”
Dad diam beberapa detik, “Apa anak-anak keluarga Lombardi akan ikut denganmu dan temanmu ke pantai?”
Aku tergelak. Selain bingung harus menjawab apa, aku juga bingung dengan maksud pertanyaan Dad. Aku menelan ludahku dalam-dalam, menarik nafas kuat-kuat.
“Tidak. Kenapa?”
“Mmm… Aku rasa, aku jarang mendengar mereka bermain denganmu. Katamu kau sekelas dengan Matthew, kan? Apa kau tidak berteman baik dengannya? Dengan sudara-saudaranya bagaimana?” Dad mendesakku dengan keingintahuannya akan hubunganku dengan anak-anak dari keluarga Lombardi. Kalau saja mengatakan siapa mereka lebih mudah daripada mengatakan bahwa kami tidak berteman baik, pasti menyenangkan. Matanya menyipit padaku. Aku tergelak. Rasanya hendak limbung ke lantai dengan pertanyaan – retoris, bagiku – dari Dad. Sikapku kikuk.
“Tidak, kami berteman baik, Dad. Aku bahkan.. Sempat sekelompok dengannya, Dad. Tapi, sayangnya… Matthew, dan yang lainnya, mereka… Lebih senang bermain dengan… Teman yang lainnya, Dad.” Jelasku, sedikit berbohong.
Dad memperhatikanku, wajahnya mengernyit, bibirnya mengerucut, “Sayang sekali, kalian kurang akrab. Kau tahu kan Dad berteman baik dengan orangtuanya?”
“Yaps.” Aku menyunggingkan senyum lebar khasku pada Dad.
“Dad kira kau bisa akrab dengan anak-anaknya.” Juga wajahnya tampak kecewa sekilas. “Baiklah, aku rasa cukup. Aku hanya ingin tahu saja. Thanks, Dear.” Ucap Dad, mengakhiri introgasinya padaku – akhirnya – membuatku lega.
Sebelum aku memejamkan mataku, aku menyempatkan melihat daftar email yang masuk. Bertambah banyak, dan semuanya dari Britany. Di dalamnya ia banyak bercerita, tentang hubungannya dengan James yang berlanjut setelah promnite lalu, dan tentang ciuman pertamanya dengan pangeran idolanya itu. Ia menceritakan bagaimana ciuman itu terjadi secara detail – dan aku membacanya dengan ekspresi jijik sekaligus tidak suka.
Ia juga menceritakan tentang sekolah yang sudah memulai hari-harinya – dengan suasana yang lebih ramai, dengan banyak siswa yang berhamburan dan juga tawa riang teman-teman asramaku.
Membalas email Britany yang datang secara terus menerus menguras tenagaku malam ini. Aku menyudahinya dan memejamkan mata diatas kasurku dengan tertutupi selimut tebalku.
Pagi menjelang dengan begitu sempurna. Sinar mataharinya begitu menyengat, menyinari kamarku dan memberikan semangat untukku. Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu semangat, bukan karena aku akan pergi ke danau dengan teman-teman, karena aku sebenarnya tidak terlalu antusias dengan ideku sendiri. Tapi mungkin, karena aku merindukan aroma danau.
Aku merasakan sesuatu bergetar dalam diriku, semangat yang menggebu-gebu dan darah yang mendidih di dalam. Aku mengetahuinya begitu turun dari tangga. Tubuhku bergidik, mataku terbelalak lebar dan mulutku ternganga.
Matthew duduk dengan anggun di sofa coklat di ruang tamu. Senyumnya mengembang manis di wajahnya, dan tatapan matanya begitu lembut, gigi putihnya pun mengkilap-kilap indah. Tubuh tingginya berdiri dan memandangiku dengan penuh takjub bahkan berseri indah.
“Kau mau pergi?”
Suaranya menyadarkan aku dari lamunan akan kehadirannya di rumahku.
“Ya.”
“Kemana?”
“Scott Lake.”
Ia memalingkan wajahnya sejenak, menundukkan kepalanya dan mendongak  memandangiku lagi.
“Tentu saja, dengan yang lainnya kan?”
“Begitulah.”
Aku memandanginya sejenak. Pikiranku memulainya, beribu-ribu kali ia berteriak di dalam ajak dia, ayo ajak dia. Dan aku hanya menggelengkan kepala, tidak percaya aku melakukannya.
“Kalau kau mau, kau bisa ikut?”
“Tidak, aku tidak bisa ikut.”
“Kenapa?”
Dia mengernyitkan dahinya selama dua detik, “Kami menghindari hubungan dekat dengan mereka. Kau mengertilah.”
“Oh, ya. Benar.” Aku mengangguk setuju. “Lalu, ada apa kau kesini?”
“Kapan kau akan pulang?”
“Entahlah, mungkin petang. Ada apa?”
Wajahnya kembali tertunduk ke lantai. Ia berkali-kali terlihat serius dan berpikir. Lalu kembali mendongakkan kepalanya. Sikapnya terlihat sedang terburu-buru dan menaja kesal sendiri.
Well, aku harus pergi sekarang. Adam sudah dekat.”
Dan tubuh tingginya yang sangat sempurna itu melayang, ia begitu cepat melejit dan menghilang dengan Porsche silvernya. Aku kecewa, setelah mengkhianati akal sehatku dengan pikiranku yang tidak normal, aku selalu menghina-hina diriku. Dan suara klakson mobil Adam mengagetkanku.
Dengan segera aku langsung menghampirinya. Adam menyeringai lebar dan terllihat antusias sekali. Ia menyapa Mom dan Dad dengan sikap ramahnya.
“Kau sudah siap, vic.”
“Yeah. Kau sendiri?”
“Seratus persen siap.”
“Bagaimana dengan yang lainnya?”
“Mereka juga sedang dalam perjalanan. Kau siap menjemput Jennifer?” Adam tempaknya ingin lebih lama mengobrol denganku.
“Ya.” Aku seakan-akan sama antusiasnya dengan Adam.
 “Ok. Kita bertemu di perempatan jalan deket rumah Anne.” Ucap Adam dengan senang.
“Ya. Sampai nanti.” Aku langsung masuk ke dalam jeepku dan mengendarainya.
Adam langsung mengemudikan mobil Surbubannya. Dan raungan Jeepku pun meramaikan lingkungan rumahku yang tampak sepi, seperti tidak ada orang yang tinggal.
Danau itu begitu indah. Udara di sini memang bercahaya terang, tapi angin bertiup dengan sejuk dan menerpa air yang biru jernih. Sepanjang danau dihiasi dengan pepohonan hijau yang tinggi, langit biru yang cerah dan berawan putih.
Kami berjalan dengan pelan karena panasnya matahari. Sambil bertelanjang kaki, kami mencari tanah datar yang pas untuk duduk santai dengan pemandangan indah danau. Suara deruan danau yang tenang, kicauan burung, membuat danau ini sangat menarik.
Suara riang kami merembak, begitu riang dan bebas. Anne dan Jessie, mereka berteriak di tepi danau. Rambut-rambut mereka berterbangan, angin cukup kencang berembus. Tawa kami pun terdengar jelas, suara riang dan teriakan kami juga memecahkan keheningan di danau.
Marco dan Lucas memilih untuk melakukan kegiatan ber-kanoying. Mereka membawa beberapa peralatannya – dan membuat mobil Surbuban Adam tidak muat. Mereka sudah bersiap-siap sudah lengkap dengan perahu kano, dayung dan siap mengelilingi danau.
Well, Gladys pasti menyesal tidak ikut.” Jennifer bergumam datar. Jennifer memejamkan matanya, menghirup udara di danau yang segar dan wangi pasir dan air danau.
“Yeah.”
“Kau kenapa? Tidak bersemangat?” pandangan Jennifer menuduh padaku.
“Terlihat begitu, ya?” aku memandangi Jennifer dengan wajah acuh.
Aku memikirkan apa sebaiknya aku menceritakan tentang kehadiran Matthew tadi pagi atau tidak? Tapi jika aku ceritakan, Jennifer akan mengira memang ada hubungan special diantara kami.
“Tidak, aku sangat bersemangat.” Sahutku, kemudian. Tapi Jennifer memandang curiga padaku. Dia mendekatiku dan duduk di sampingku sambil memanjangkan kedua kakinya.
Kucoba untuk merekahkan senyuman, dan menatap hamparan lautan yang luas itu dengan tersenyum. Jennifer memandangiku dengan tidak percaya, matanya menyipit dan ia menggigit bibirnya. Adam mendekati kami, ia menyengir dan cengengesan.
“Kalian tidak bergabung dengan Anne, Jessie dan Steve?” aku dan Jennifer serentak memandangi mereka. Steve, Jessie dan Anne sedang bermain kejar-kejaran yang tidak kumengerti. Sepertinya mereka sedang bermain, jika ada yang salah maka mereka akan dikejar dan harus melakukan sesuatu. Tawa Jessie dan Anne sangat terdengar walau jarak kami lumayan jauh. Sesaat aku dan Jennifer bertatapan dan kembali menatap Adam.
“Tidak.” Kami menjawab dengan berbarengan. Dan Adam tertawa.
“Kalian ini, pasti mengira itu kekanak-kanakan?” Adam menuduh benar.
“Tentu saja, Tuan Sanders.” Sindir Jennifer dengan wajahnya yang setengah tersenyum. Adam mendesah.
“Jadi apa yang terjadi di antara kalian dan Gladys?”
Adam duduk diantara aku dan Jennifer. Memandangi kami bergantian dan mengerutkan dahinya. Tampaknya ada yang sedang dicaritahunya. Aku tergelak.
“Adam, kau bilang apa?”
“Dengar, Vic. Aku melihatnya, saat ia menatap kalian kemarin. Ia tampak tidak suka sekali dengan kalian. Dan belakangan ini aku tidak melihat ia berbicara dengan kalian, kalian terlalu sering berdua.” Jelas Adam dengan sikap bangga karena dia tahu sesuatu telah terjadi di antara aku dan Gladys.
Penjelasan Adam yang sangat komplit membuat aku dan Jennifer saling berpandangan. Aku takjub, diam-diam ia memperhatikan kami. Bahkan mengenai tatapan mata Gladys yang terakhir – dan tidak ingin aku ingat lagi tidak lepas dari penglihatannya.
“Adam, kau terlalu sering bergurau.”
“Tidak, aku yakin sekali.”
“Kalau begitu kau salah.”
“Masa sih?”
Wajahnya masih penuh dengan pertanyaan, dahinya mengerut, bibirnya mengerucut dan ia masih memandangi aku dan Jennifer bergantian.
“Menurutku, persahabatan tanpa masalah tentu tidak akan bertahan, iya kan?” Ia berpaling padaku, memandangiku dan mendesah. Sepertinya Adam puas dengan apa yang diketahui sendiri. Aku dan Jennifer diam bersamaan.
“Wow, jelas sekali kalian sedang bertengkar.” Adam akhirnya menemukan kebenaran. Sial!
“Lalu apa itu masalah bagimu, Tuan Muda?” suara Jennifer mengejek.
Dan Jennifer membelaku. Ia berdiri tepat di hadapan Adam, sebelah tangannya bertolak pinggang dan Adam tertawa.
“Hey, hey, ada apa dengan kalian? Santai saja, aku kan cuma bertanya.” Adam mencoba menenangkan aku dan Jennifer.
“Dan itu mengganggu kami.”
“Sudahlah, hentikan.”
Aku meninggalkan mereka – berjalan menyelusuri danau lebih jauh lagi. Memandangi danau dan sekelilingnya. Danau yang di kelilingi pepohonan dan hutan yang semakin dalam semakin gelap dan menyeramkan. Namun, di dalamnya ada keheningan hutan yang lengkap dengan aroma tanah suburnya.
Pikiranku melayang, aku membayangkan sosok sempurnanya berdiri di dalam sana, tersenyum padaku, begitu indah dan mempesona. Terlihat dari kejauhan gigi putihnya, tangannya melambai-lambai padaku.
Dan Jennifer mengagetkanku dari lamunanku. Ia menarik tanganku dan kembali berkumpul dengan yang lainnya. Mereka semua berhasil membuatku ikut bertingkah gila layaknya anak-anak.
Marco dan Lucas menghampiri kami. Keduanya terlihat ceria dan penuh semangat sekali. Lucas memeluk Jennifer erat dan ia juga beberapa kali menggandengnya saat kami memutuskan untuk pulang. Kulihat wajah Jennifer berseri-seri dan ia menyambut hangat genggaman tangan Lucas.
Hari sudah sore, langit sudah mulai gelap. Acara bersantai ria di Scott Lake yang tidak berbekas di hatiku berakhir, setidaknya kau berusaha untuk menghabiskan waktu dengan teman-temanku.

Komentar

Postingan Populer